Malu adalah perhiasan bagi seluruh hamba Allah yang beriman, yang
membedakan antara dia dengan makhluk lain.
Manusia secara secara umum semua berhiaskan rasa malu kecuali
yang telah hilang keimanannya, dan wanita-lah sejatinya sebagai pemilik rasa
malu tersebut, dan tentu hal ini berbeda dengan laki-laki.
«فَجَآءَتْهُ إِحْدَىٰهُمَا تَمْشِى عَلَى ٱسْتِحْيَآء»
“Artinya : Kemudian datanglah kepada Musa salah seorang dari
kedua wanita itu berjalan
kemalu-maluan...”(QS. Al-Qashash : 25)
Berkata Ibnu Katsir rahimahullah dalam kitab tafsirnya :
"Firman Allah «فَجَآءَتْهُ إِحْدَىٰهُمَا تَمْشِى عَلَى
ٱسْتِحْيَآء» ((Kemudian datanglah kepada Musa salah seorang dari kedua wanita
itu berjalan kemalu-maluan)), yaitu jalannya wanita-wanita terhormat (bukan
hamba sahaya). [Tafsir Ibni Katsir, 3/345 pustaka Daarul Kutub Al-Ilmiyah]
Di zaman sekarang sudah banyak wanita-wanita bercadar,
mereka tegar diatas keyakinannya padahal mereka bahkan dikatakan teroris atau
bahkan di katakan tenda berjalan, atau bahkan di katakan ninja tapi mereka
tidak perduli, karena gelar-gelar itu hanyalah kedustaan atas mereka.
Bila seorang wanita ingin mulia dan terhormat maka
berhijablah, engkau akan terjaga. Berkata seorang pujangga cinta :
“Hijab adalah perisai. Mahkota bagi pemiliknya. Seolah-olah
perhiasan dunia. Yang menawan orang-orang sholeh. Dalam penjara-penjara cinta
diatas aqad. Seakan-akan engkau mutiara dan marjan yang tersimpan.”
Karena itu malu adalah perhiasan yang terindah bagi setiap wanita, yang dapat membedakan antara dia dengan para budak. Jangan hilangkan rasa malu itu saudariku, apabila malu itu hilang, maka keindahan kalianpun akan sirna, kehormatan kalian akan terkoyak bahkan kalian akan menjadi gelas-gelas kaca yang retak bahkan pecah berkeping-keping.
Mari budayakan rasa malu, tatkala saudari-saudarimu yang
lain telah mengabaikannya, dan mari contohi Putri Nabi Syu'aib 'alaihissalam
agar kaum muslimah menjadi semakin mulia dan terhormat.
Wallahu a'lam

Tidak ada komentar:
Posting Komentar