Beranda

Jumat, 15 November 2024

BERSUMPAH DENGAN NAMA SELAIN ALLAH #1

 


Dari Umar bin Al-Khaththab _radhiyallahu 'anhu_ bahwa Nabi _shallallahu 'alaihi wa sallam_ bersabda :

((من حلف بغير الله فقد كفر أو أشرك)).

"Barangsiapa yang bersumpah dengan nama selain Allah, maka sungguh dia telah kafir atau telah berbuat syirik." (HR.At-Tirmidzi). _*[Lihat Fathul Majiid, Syarh Kitaabit Tauhiid, (hal.413)]*_

✅ Faedah yang bisa diambil :

1. Haramnya bersumpah dengan nama selain Allah

2. Orang yang bersumpah dengan nama selain Allah, dia telah berbuat kufur dan melakukan kesyirikan.

3. Bersumpah dengan nama selain Allah kadang-kadang syirik besar dan kadang-kadang syirik kecil, tergantung i'tiqod orang yang bersumpah. Jika yang disumpahi selain Allah itu dia agungkan seperti mengagungkan Allah maka orang yang bersumpah tersebut telah jatuh dalam kesyirikan besar. Namun jika sumpahnya hanya mengalir begitu saja secara spontan tanpa ada i'tiqod mengagungkan yang disumpahi selain Allah, maka ini syirik kecil. Sseperti bersumpah dengan persaudaraan, bersumpah dengan kesetiaan, dll.

4. Syirik kecil dosanya lebih besar dari pada dosa besar seperti membunuh, berzina, dll.

5. Bahayanya bersumpah dengan nama selain Allah. 

6. Pentingnya kita mempelajari ilnu tauhid 

Serta masih banyak faedah lainnya. 

***

Sidayu, 14 November 2024

Penulis : Abu Dawud ad-Dombuwiyy

Artikel : Meciangi.or.id





_______

🖊 *meciangi.or.id*

Minggu, 29 September 2024

ALLAH MENCIPTAKAN JIN DAN MANUSIA UNTUK BERIBADAH

Bismillah. Alhamdulillahi Rabbil 'aalamiin. Wa shallallahu 'ala Nabiyyina Muhammadin wa 'ala aalihi wa shahbihi ajma'iin. Wa ba'du.

Allah menciptakan Jin dan Manusia bukan tanpa maksud dan tujuan, tapi Allah menciptakan mereka untuk beribadah kepada Allah. Allah Ta'ala berfirman :

«وَمَا خَلَقْتُ ٱلْجِنَّ وَٱلْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ»

Artinya : "Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku." (QS. Adz-Dzariyat : 56)

Berkata Ibnu Katsir mengenai tafsir ayat diatas :

أي إنما خلقتهم لآمرهم بعبادتي لا لاختيابي إليهم. وقال علي بن أبي راجعون ابن عباس «إِلَّا لِيَعْبُدُونِ» إلا ليقروا بعبادتي طوعا أو كرها. وهذا اختيار ابن جرير وقال ابن جرير : إلا ليعرفون، وقال الربيع ابن أنس «إِلَّا لِيَعْبُدُونِ» أي إلا للعبادة، وقال السدي : من العبادة ما ينفع ومنها ما لا ينفع «وَلَئِن سَأَلْتَهُم مَّنْ خَلَقَ ٱلسَّمَـٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضَ لَيَقُولُنَّ ٱللَّهُ ۚ قُلِ ٱلْحَمْدُ لِلَّهِ ۚ» هذه منهم عبادة وليس ينفعهم مع الشرك، وقال الضحاك المراد بذلك المؤمنون.

[تفسير ابن كثير، ٤\٢٠٤. دار الكتب العلمية]

"Maksudnya, Aku  menciptakan mereka dengan tujuan untuk menyuruh mereka beribadah kepada-Ku, bukan karena Aku membutuhkan mereka. Berkata Ali bin Thalhah dari Ibnu Abbas, «إِلَّا لِيَعْبُدُونِ» "Melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku." Artinya, melainkan supaya mereka mau tunduk beribadah kepada-Ku, baik secara sukarela maupun terpaksa. Dan itu pula yang menjadi pilihan Ibnu Jarir dan berkata Ibnu Jarir : "Yaitu supaya mereka mengenal-Ku." Berkata Rabii' bin Anas, «إِلَّا لِيَعْبُدُونِ» maksudnya tidak lain kecuali untuk beribadah. As-Suddi mengatakan : "Diantara ibadah itu ada yang bermanfaat dan ada yang tidak bermanfaat." «وَلَئِن سَأَلْتَهُم مَّنْ خَلَقَ ٱلسَّمَـٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضَ لَيَقُولُنَّ ٱللَّهُ» "Dan sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka: "Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?" Tentu mereka akan menjawab: "Allah". Ini merupakan ibadah dari mereka dan tidak bermanfaat bagi mereka ibadah tersebut bersama adanya kesyirikan. Berkata Adh-Dhohak : "Yang dimaksud dengan hal itu adalah orang-orang yang beriman." [Tafsiir Ibni Katsiir, hal. 4/204. Cet. Daarul Kutub Al-'Ilmiyyah]

Berkata Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di rahimahullah mengenai surat Adz-Dzariyat diatas :

هذه الغاية التي خلق الله الجن والإنس لها، وبعث جميع الرسل يدعون إليها، وهي عبادته المتضمنة لمعرفته ومحبته، والإنابة إليه والإقبال عليه، والإعراض عمن سواه، وذلك يتضمن معرفته تعالى، فإن تمام العبادة، متوقف على المعرفة بالله، بل كلما ازداد العبد معرفة لربه، كانت عبادته أكمل، فهذا الذي خلق الله المكلفين لأجله.

[تيسير الكريم الرحمان في تفسير كلام المنان، ص ٨١٣. مؤسسة الرسالة]

"Ini merupakan tujuan, dengan tujuan inilah Allah menciptakan jin dan manusia, dan mengutus seluruh rasul agar mereka menyeru kepada tujuan tersebut, yaitu beribadah kepada Allah yang meliputi mengenal-Nya dan mencintai-Nya, bertaubat kepada-Nya, dan mendekat kepada-Nya, dan berpaling dari selain-Nya, dan hal itu termasuk mengenal Allah Ta'ala, karena sesungguhnya sempurnanya suatu ibadah berhenti pada mengenal Allah, bahkan setiap kali seorang hamba bertambah ia mengenal Rabbnya, maka ibadahnya-pun menjadi lebih sempurna, dan inilah tujuan Allah menciptakan al-mukallafiin (Jin dan Manusia) karena alasan tersebut." [Taisiirul Kariimir Rahmaan fii Tafsiiri Kalaamil Mannaan, hal. 813. Cet. Mu'assasatur Risaalah]

Faedah yang bisa diambil :

1. Huruf ما pada ayat diatas bermakna penafian sedangkan huruf إلا sebagai itsbat (penetapan) yang maknanya, Allah tidak menciptakan Jin dan Manusia dengan tujuan lain, kecuali hanya untuk beribadah kepada Allah 'Azza wa Jalla.

2. Makna لِيَعْبُدُوْنِ (supaya mereka beribadah kepada-Ku) yaitu لِيُوَحِّدُوْنِ (supaya mereka mentauhidkan-Ku).

3. Makna ibadah yaitu segala sesuatu yang dicintai dan diridhoi Allah baik perkataan maupun perbuatan sebagaimana yang disebutkan oleh Ibnu Taimiyyah rahimahullah :

العبادة اسم جامع لكل ما يحب الله ويرضاه، من الأقوال والأعمال الظاهرة والباطنة.

"Ibadah yaitu suatu nama yang mencakup setiap apa-apa yang dicintai Allah dan diridhoi-Nya, baik ucapan maupun perbuatan yang nampak maupun yang tersembunyi." [Fathul Majiid Syarh Kitaabit Tauhiid, hal. 14. Cet. Daarul Kutub Al-'Ilmiyyah]

4. Allah menciptakan Jin dan Manusia bukan karena Allah butuh pada mereka, sebab Allah adalah Dzat yang tidak membutuhkan siapapun tapi Allah menciptakan mereka untuk beribadah. 

5. Pada ayat 56 surat Adz-Dzariyat diatas terkandung tauhid rububiyyah, karena Allah adalah Al-Khaliq (Pencipta) yaitu yang Menciptakan segala sesuatu sebagaimana firman-Nya :

«ٱلَّذِى لَهُۥ مُلْكُ ٱلسَّمَـٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ وَلَمْ يَتَّخِذْ وَلَدًۭا وَلَمْ يَكُن لَّهُۥ شَرِيكٌۭ فِى ٱلْمُلْكِ وَخَلَقَ كُلَّ شَىْءٍۢ فَقَدَّرَهُۥ تَقْدِيرًۭا»

Artinya : "Yang kepunyaan-Nya-lah kerajaan langit dan bumi, dan Dia tidak mempunyai anak, dan tidak ada sekutu bagi-Nya dalam kekuasaan(Nya), dan dia telah menciptakan segala sesuatu, dan Dia menetapkan ukuran-ukurannya dengan serapi-rapinya." (QS. Al-Furqon : 2)

6. Tauhid Rububiyyah melazimkan tauhid uluhiyyah sebagaimana firman Allah Ta'ala :

«ٱلَّذِى جَعَلَ لَكُمُ ٱلْأَرْضَ فِرَٰشًۭا وَٱلسَّمَآءَ بِنَآءًۭ وَأَنزَلَ مِنَ ٱلسَّمَآءِ مَآءًۭ فَأَخْرَجَ بِهِۦ مِنَ ٱلثَّمَرَٰتِ رِزْقًۭا لَّكُمْ ۖ فَلَا تَجْعَلُوا۟ لِلَّهِ أَندَادًۭا وَأَنتُمْ تَعْلَمُونَ»

Artinya : "Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezeki untukmu; karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu mengetahui." (QS. Al-Baqaroh : 22)

7. Pada ayat diatas juga terkandung tauhid uluhiyyah karena Allah menciptakan manusia dengan tujuan untuk beribadah, dan ibadah adalah perbuatan hamba, dan tauhid uluhiyyah yaitu mengesakan Allah dalam perbuatan-perbuatan hamba atau dalam beribadah

8. Jin adalah makhluk yang semisal dengan kita, Allah lebih dahulu menciptakan mereka daripada Manusia. Allah ciptakan mereka dari api sedangkan kita diciptakan dari tanah. 

9. Jin dan Manusia merupakan dua golongan yang berbeda alam, namun keduanya mendapatkan pembebanan syariat yang sama dari Allah 'Azza wa Jalla.

10. Jin sebagaimana Manusia ada yang ahlus sunnah ada yang ahlul bid'ah, ada yang bertauhid dan ada yang berbuat syirik, ada yang mu'min dan ada juga yang kafir sebagaimana firman Allah : 

«قُلْ أُوحِىَ إِلَىَّ أَنَّهُ ٱسْتَمَعَ نَفَرٌۭ مِّنَ ٱلْجِنِّ فَقَالُوٓا۟ إِنَّا سَمِعْنَا قُرْءَانًا عَجَبًۭا. يَهْدِىٓ إِلَى ٱلرُّشْدِ فَـَٔامَنَّا بِهِۦ ۖ وَلَن نُّشْرِكَ بِرَبِّنَآ أَحَدًۭا. وَأَنَّهُۥ تَعَـٰلَىٰ جَدُّ رَبِّنَا مَا ٱتَّخَذَ صَـٰحِبَةًۭ وَلَا وَلَدًۭا»

Artinya : "Katakanlah (hai Muhammad): "Telah diwahyukan kepadamu bahwasanya: sekumpulan jin telah mendengarkan (Al-Qur'an), lalu mereka berkata: Sesungguhnya kami telah mendengarkan Al-Qur'an yang menakjubkan, (yang) memberi petunjuk kapada jalan yang benar, lalu kami beriman kepadanya. Dan kami sekali-kali tidak akan mempersekutukan seseorangpun dengan Tuhan kami. Dan bahwasanya Maha Tinggi kebesaran Tuhan kami, Dia tidak beristeri dan tidak (pula) beranak." (QS. Al-Jin : 1-3)

11. Wajibnya beriman tentang perkara-perkara yang ghoib yang datang dari Al-Qur'an dan As-Sunnah meskipun itu diluar jangkauan aqal kita.

12. Beriman tentang perkara ghoib termasuk diantara rukun-rukun iman kepada Allah.

13. Tidak ada yang mengetahui perkara-perkara ghoib kecuali Allah.

Dan masih banyak faedah lainnya. Semoga bermanfaat.

Senin, 04 Desember 2023

HARAMNYA MUSIK DAN NYANYIAN

 

Bismillah. Alhamdulillah. Wa shallallahu'ala Nabiyyina Muhammadin wa 'ala aalihi wa shahbihi ajma'iin. Wa ba'du.

Dalam agama Islam, musik itu haram berdasarkan literatur dan dalil-dalil yang ada, baik dari al-Qur'an, hadits-hadits Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam maupun berdasarkan kesepakatan para ulama. Dalam al-Qur'an sendiri Allah Ta'ala telah berfirman :

«وَمِنَ ٱلنَّاسِ مَن يَشْتَرِى لَهْوَ ٱلْحَدِيثِ لِيُضِلَّ عَن سَبِيلِ ٱللَّهِ بِغَيْرِ عِلْمٍۢ وَيَتَّخِذَهَا هُزُوًا ۚ أُو۟لَـٰٓئِكَ لَهُمْ عَذَابٌۭ مُّهِينٌۭ»

Artinya : "Dan di antara manusia (ada) orang yang mempergunakan perkataan yang tidak berguna untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Allah tanpa pengetahuan dan menjadikan jalan Allah itu olok-olokan. Mereka itu akan memperoleh azab yang menghinakan". (QS. Lukman : 6).

Ibnu Katsir menjelaskan dalam tafsirnya :

روى ابن جرير : حدثني يونس بن عبد الأعلى قال : أخبرنا ابن وهب، أخبرني يزيد ابن يونس عن أبي صخر عن أبي معاوية البجلي عن سعِيد بن جبير عن أبي الصهباء البكري أنه سمع عبد الله بن مسعود وهو يسأل عن هذا الآية (وَمِنَ ٱلنَّاسِ مَن يَشْتَرِى لَهْوَ ٱلْحَدِيثِ لِيُضِلَّ عَن سَبِيلِ ٱللَّهِ بِغَيْرِ عِلْمٍۢ وَيَتَّخِذَهَا هُزُوًا ۚ أُو۟لَـٰٓئِكَ لَهُمْ عَذَابٌۭ مُّهِينٌ) فقال عبد الله بن مسعود : الغناء والله الذي لا إله إلا هو، يرددها ثلاث مرات، حدثنا عمرو بن علي، حدثنا صفوان بن عيسى، أخبرنا حميد الخراط عن عمار عن سعيد بن جبير، عن أبي الصهباء أنه سأل ابن مسعود عن قول الله (وَمِنَ ٱلنَّاسِ مَن يَشْتَرِى لَهْوَ ٱلْحَدِيثِ) قال : الغناء، وكذا قال ابن عباس وجابر وعكرمة وسعيد بن جبير ومجاهد ومكحول وعمرو بن شعيب وعلي بن بذيمة

.وقال الحسن البصري : نزلت هذه الآية (وَمِنَ ٱلنَّاسِ مَن يَشْتَرِى لَهْوَ ٱلْحَدِيثِ لِيُضِلَّ عَن سَبِيلِ ٱللَّهِ بِغَيْرِعِلْمٍۢ) في الغناء والمزامير

"Ibnu Jarir telah meriwayatkan : Mengabarkan kepadaku Yunus bin 'Abdil A'la, ia mengatakan : Mengabarkan kepada kami Ibnu Wahb, mengabarkan kepadaku Yazid bin Yunus dari Abi Shakhr dari Abi Muawiyah al-Bajaliy dari Sa'id bin Jubair dari Abi Shahba' al-Bakriy bahwasannya dia mendengar 'Abdullah bin Mas'ud dan dia menanyakan tentang ayat ini (Artinya : Dan di antara manusia (ada) orang yang mempergunakan perkataan yang tidak berguna untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Allah tanpa pengetahuan dan menjadikan jalan Allah itu olok-olokan. Mereka itu akan memperoleh azab yang menghinakan), berkata 'Abdullah bin Mas'ud : (maksudnya adalah) Nyanyian demi Allah yang tidak ada ilah kecuali Dia, 'Abdullah bin Mas'ud  mengulang ucapannya sebanyak tiga kali.

Menceritakan kepada kami 'Amr bin 'Ali, menceritakan kepada kami Shofwan bin 'Isa, mengabarkan kepada kami Humaid al-Khirath dari Sa'id bin Jubair, dari Abi Shahba' bahwasannya dia bertanya kepada Ibnu Mas'ud tentang firman Allah (Artinya : Dan di antara manusia (ada) orang yang mempergunakan perkataan yang tidak berguna), Ibnu Ma'sud mengatakan : (maksudnya adalah) Nyanyian, seperti itu juga ucapan Ibnu 'Abbas, Jabir, 'Ikrimah, Sa'id bin Jubair, Mujahid, Makhul, 'Amr bin Syu'aib dan 'Ali bin Badzimah."

Berkata Al-Hasan al-Bashriy : "Diturunkan ayat ini (Artinya : "Dan di antara manusia (ada) orang yang mempergunakan perkataan yang tidak berguna untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Allah tanpa pengetahuan) yakni mengenai nyanyian dan seruling." [Tafsir Ibni Katsir, 3/394. Cet. Daarul Kutub al-'Ilmiyyah]

Berkata Doktor Amin bin Abdillah Asy-Syaqawiy :

قال تعالى: ﴿ وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَشْتَرِي لَهْوَ الْحَدِيثِ لِيُضِلَّ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ وَيَتَّخِذَهَا هُزُوًا أُولَئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ مُهِينٌ ﴾ [لقمان: 6

:صح عن ابن مسعود وابن عباس - رضي الله عنهما - أنهما فسرا ﴿ لَهْوَ الْحَدِيثِ ﴾ بالغناء، وحلف ابن مسعود ثلاث مرات، فقال .والله الذي لا إله إلا هو ﴿ لَهْوَ الْحَدِيثِ ﴾ هو الغناء

.وقال أيضًا : الغناء ينبت النفاق كما ينبت الماء الزرع

: قال ابن القيم - رحمه الله - معلقًا على تفسير ابن مسعود وغيره للآية السابقة بأن المراد بها الغناء

فلا ريب أنه أولى بالقبول من تفسير من بعدهم فهم أعلم الأمة بمراد الله عز وجل من كتابه فعليهم نزل وهم أول من خوطب به من الأمة، وقد شاهدوا تفسيره من الرسول - صلى الله عليه وسلم - علمًا وعملًا، وهم العرب الفصحاء على الحقيقة، فلا يعدل عن تفسيرهم ما وجد إليه سبيل

روى البخاري في صحيحه من حديث أبي مالك الأشعري: أن النبي - صلى الله عليه وسلم - قال: "ليكونن من أمتي أقوام يستحلون : الحر والحرير والخمر والمعازف، ولينزلن أقوام إلى جنب علم يروح عليهم بسارحة لهم، يأتيهم - يعني: الفقير - لحاجة فيقولون ."ارجع إلينا غدًا، فيبيتهم الله ليلًا، ويضع العلم عليهم، ويمسخ آخرين قردة وخنازير إلى يوم القيامة.فهذا الحديث يخبر عن أمر عظيم، وهو إهلاك بعض الأمة بأنواع من الهلاك، بسبب ما يرتكبون من الأمور ظاهرة التحريم، ومنها، استحلالهم لآلات الملاهي المحرمة شرعًا، وهي في وقتنا المعاصر مثل: الكمنجا، والعود، والطبل، والبيانو، والربابة، والمزمار وغيرها من المعازف، ودلالة  الحديث على التحريم من وجهين

الأول: قوله عليه الصلاة والسلام: "يستحلونها" أي يصيرونها حلالًا بعد حرمتها، ففيه التصريح بأن المذكورات في الحديث محرمة، ومنها المعازف

الثاني: قرن المعازف مع الشيء المقطوع بحرمته بإجماع المسلمين، وهو الزنا وشرب الخمر، ولبس الحرير، وهو دليل على حرمتها

روى الترمذي في سننه من حديث عمران بن حصين: أن النبي - صلى الله عليه وسلم - فقال رجل من المسلمين: "في هذه الأمة".قذف وخسف ومسخ" فقال رجل من المسلمين: متى ذاك يا رسول الله؟ قال: "إذا ظهرت القينات والمعازف وشربت الخمور

: - قال ابن القيم - رحمه الله

وقد توعد الله سبحانه مستحلي المعازف بأن يخسف الله بهم الأرض، ويمسخهم قردة وخنازير، وإن كان الوعيد على  جميع هذه" الأفعال، فلكل واحد قسط في الذم والوعيد

:وقال شيخ الإسلام ابن تيمية - رحمه الله - ما خلاصت

وإنما ذلك إذا استحلوا هذه المحرمات بالتأويلات الفاسدة، فإنهم لو استحلوها مع اعتقاد أن الرسول حرمها كانوا كفارًا، ولم يكونوا من أمته. اهـ

وقد اتفق الأئمة الأربعة على تحريم المعازف، ولو أتلفها متلف عندهم لم يضمن صورة التالف، بل يحرم عندهم اتخاذها. ولما سئل الإمام مالك عما يترخص فيه أهل المدينة من الغناء؟ قال: إنما يفعله عندنا الفساق

"ولما سئل الإمام أحمد - رحمه الله - عنه قال : "الغناء ينبت النفاق في القلب

وأما مذهب أبي حنيفة، فهو من أشد المذاهب، فقد صرح أصحابه بتحريم سماع الملاهي كلها، كالمزمار، والدف، حتى الضرب بالقصب، وصرحوا بأنه معصية، يوجب الفسق وترد به الشهادة

.وقد انتشر الغناء وللأسف في مجتمعنا، فالأغاني في التلفاز والقنوات الفضائية والمسجل والراديو، وغيرها من آلات اللهو

:قال يزيد بن الوليد

: إياكم والغناء، فإنه ينقص الحياء، ويزيد في الشهوة، ويهدم المروءة، وإنه لينوب عن الخمر، ويفعل ما يفعل المسكر، وقال"فجنبوه النساء، فإن الغناء داعية الزنا، أو رقية الزنا

"Allah Ta'ala berfirman : (Artinya : "Dan di antara manusia (ada) orang yang mempergunakan perkataan yang tidak berguna untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Allah tanpa pengetahuan dan menjadikan jalan Allah itu olok-olokan. Mereka itu akan memperoleh azab yang menghinakan). (QS. Lukman : 6).

Telah shohih dari Ibnu Mas'ud dan Ibnu Abbas -radhiyallahu 'anhuma- bahwa keduanya telah mentafsirkan (lahwal hadits) dengan nyanyian, dan Ibnu Mas'ud bersumpah sebanyak tiga kali dan berkata : demi Allah yang tidak ada ilah kecuali Dia. (lahwal hadits) yaitu nyanyian.

Ibnu Mas'ud juga mengatakan : "Nyanyian akan menumbuhkan kemunafikan sebagaimana air menumbuhkan tanaman."

Berkata Ibnul Qayyim -rahimahullah- mengomentari tafsir Ibnu Mas'ud dan yang selainnya berkaitan dengan ayat yang sudah berlalu (surat Lukman ayat 6) bahwasannya yang dimaksud oleh ayat tersebut adalah nyanyian.

Maka tidak boleh ragu bahwasannya merekalah yang lebih utama diterima penafsirannya daripada selainnya dan mereka juga yang paling mengetahui dari umat ini apa yang diinginkan oleh Allah 'Azza wa Jalla dari kitab-Nya, maka kepada mereka-lah diturunkan (al-Qur'an) dan mereka pula yang pertama kali diajak bicara dari umat ini, dan sesungguhnya mereka telah menyaksikan (mendengar) penafsirannya dari Rasul -shallallahu 'alaihi wa sallam- berdasarkan ilmu dan pengamalan, dan mereka adalah orang arab yang sangat fasih secara hakikat, maka jangan tinggalkan penafsiran mereka apa yang tidak didapatkan darinya jalan (penafsiran lain).

Dan Imam al-Bukhari meriwayatkan dalam kitab shahihnya dari hadits Abu Malik al-Asy'ariy bahwasannya Nabi -shallallahu 'alaihi wa sallam- bersabda : "Sungguh akan ada dari umatku suatu kaum yang akan menghalalkan zina, menghalalkan sutra, menghalalkan khamr dan menghalalkan alat-alat musik. Dan beberapa kelompok orang, benar-benar akan singgah di lereng sebuah gunung dengan binatang ternak mereka, lalu seseorang mendatangi mereka  -yaitu orang fakir- untuk suatu keperluan, lalu mereka berkata, ‘Kembalilah kepada kami besok hari.’ Kemudian Allah mendatangkan siksaan kepada mereka dan menimpakan gunung kepada mereka serta Allah mengubah sebagian dari mereka menjadi kera dan babi sampai hari Kiamat."

Hadits ini telah mengabarkan tentang perkara yang besar, yaitu kebinasaan sebagian umat dengan berbagai macam kebinasaan disebabkan apa yang mereka lakukan seperti perkara-perkara keharaman yang nampak, diantaranya  menghalalkan alat-alat musik yang telah diharamkan oleh syariat, dan alat-alat musik tersebut dizaman kita sekarang seperti : biolakecapidrumpianorebabseruling dan selainnya dari alat-alat musik, dan dalalah hadits ini menunjukan keharamannya dari dua sisi:

Yang pertama : Ucapan Nabi 'alaihis shalaatu wa sallam (يستحلونها) "menghalalkan alat-alat musik" yakni, mereka menjadikan alat-alat musik itu halal setelah keharamannya. Dan dalam hadits tersebut ada pernyataan bahwasannya semua yang disebutkan didalam hadits adalah haram, diantaranya adalah alat-alat musik.

Yang kedua : menggabungkan alat-alat musik dengan sesuatu yang terpisah keharamannya berdasarkan kesepakatan kaum muslimin, seperti zina, meminum khamr, memakai sutra, merupakan dalil atas keharaman alat-alat musik.

Dan Imam Tirmidzi telah meriwayatkan dalam kitab sunannya dari hadits 'Amran bin Husain bahwasannya Nabi -shallallahu 'alaihi wa sallam- bersabda kepada seorang laki-laki dari kaum muslimin : "Pada umat ini akan (ada adzab) dilempari dengan hujan batu, di tenggelamkan (kedalam bumi), dirubah bentuk (serta rupa)", maka berkata seorang laki-laki dari kaum muslimin : 'kapan itu terjadi wahai Rasulullah?' "Apabila telah muncul biduanita (penyanyi perempuan), alat-alat musik, dan telah diminum khamr."

Ibnul Qayyim -rahimahullah- mengatakan :

"Sungguh Allah -Maha Suci Dia- telah mengancam orang yang menganggap halal alat-alat musik, karena Allah akan menenggelamkan mereka kedalam bumi, dan Allah akan merubah bentuk mereka menjadi kera-kera dan babi-babi, meskipun ancaman ini untuk semua perbuatan-perbuatan ini, namun setiap salah satu (dari perbuatan tersebut) ada bagian tersendiri dalam celaan dan ancaman."

Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah -rahimahullah- ringkasannya :

"Sesungguhnya apabila mereka telah menghalalkan perkara-perkara yang haram dengan ta'wilan yang rusak, (mereka tidak kafir), namun apabila mereka telah menghalalkan perkara-perkara yang haram tersebut dengan keyakinan (tentang halalnya) padahal Rasul telah mengaharamkan itu semua,  maka mereka telah kafir, dan mereka bukan umat Rasul. Dan seterusnya."

Dan sungguh Imam empat madhab telah bersepakat akan haramnya alat-alat musik, seandainya seseorang menghancurkan alat-alat musik, menurut mereka (Imam empat madzhab) tidak ada denda pada bentuk pengrusakan tersebut, bahkan menurut mereka, haram mengambil alat-alat musik. Ketika Imam Malik ditanya tentang penduduk madinah yang meminta keringanan untuk bernyanyi? Imam Malik berkata : Sesungguhnya melakukan hal itu menurut kami termasuk kemunafikan.

Ketika Imam Ahmad -rahimahullah- ditanya tentang nyanyian, beliau mengatakan : "Nyanyian akan menumbuhkan kemunafikan didalam hati."

Adapun madzhab Abu Hanifah, dia termasuk madzhab yang paling keras, sesungguhnya sahabat-sahabat Abu Hanifah telah mengumumkan tentang haramnya mendengarkan seluruh alat-alat musik, seperti serulingduf  (rebana), hingga memukul rebana didepan sanak kerabat, dan mereka telah mengumumkan bahwasannya alat-alat musik tersebut merupakan kemaksiatan, melazimkan munculnya kefasikan serta ditolaknya persaksian

Dan sungguh telah menyebar nyanyian dan dan menyebar pula kesedihan (karena menyebarnya nyanyian) di masyarakat kita, seperti nyanyian-nyanyian di televisi dan saluran/chanel-chanel satelit, rekaman, radio dan selain itu dari alat-alat musik.

Berkata Yazid bin al-Walid :

"Hati-hati kalian terhadap nyanyian, karena nyanyian akan mengurangi rasa malu, menguatkan syahwat, dan menurunkan muro'ah. Sesungguhnya nyanyian benar-benar akan medekatkan dengan khomr, pelakunya akan melakukan apa yang dilakukan oleh pemabuk, dan Yazid bin al-Walid juga mengatakan : "Mereka akan dekat dengan wanita, karena sesungguhnya nyanyian akan mengajak kepada zina, atau mantranya zina." [https://www.alukah.net/sharia/0/47377/]

Karena demikian, pengharaman nyanyian, alat-alat musik, sejak lama sudah termaktub dalam al-Qur'an maupun hadits, seperti contoh konteks hadits yang menyebutkan 'akan dihalalkan musik' ini menunjukkan bahwa musik itu harom. Kedua, ketika alat-alat musik digandengkan penyebutannya dengan sesuatu yang harom seperti zina, memakai sutra bagi laki-laki, meminum khomr, menunjukkan bahwa alat-alat musik itu harom, memainkannya juga haram, walaupun -kata mereka- itu musik "religi".

Hadits yang telah disebutkan diatas diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dalam kitab shohihnya no.5590. konteks lengkapnya sebagai berikut :

   وقال هشام بن عمار : حدثنا صدقة بن خالد : حدثنا عبد الرحمان بن يزيد بن جابر : حدثنا عطية بن قيس الكلابي : حدثنا عبد الرحمان بن غنم الأشعري قال : حدثني أبو عامر -أو أبو مالك- الأشعري، والله ما كذبني : سمع النبي صلى الله عليه وسلم يقول : ليكونن من امتي أقوام، يستحلون الحر والحرير، والخمر والمعازف، ولينزلن أقوام إلى جنب علم يروح عليهم بسارحة لهم، يأتيهم - يعني: الفقير - لحاجة فيقولون : ارجع إلينا غدًا، فيبيتهم الله ليلًا، ويضع العلم عليهم، ويمسخ آخرين قردة وخنازير إلى يوم القيامة

"Berkata Hisyam bin 'Ammar, menceritakan kepada kami Shodaqoh bin Khalid : menceritakan kepada kami 'Abdurrahman bin Yazid bin Jabir : menceritakan kepada kami 'Atiyyah bin Qais al-Kilaabiy : menceritakan kepada kami 'Abdurrahman bin Ganm al-Asy'ariy dia berkata : menceritakan kepadaku Abu 'Amr -atau Abu Malik- al-Asy'ariy, demi Allah saya tidak berdusta : dia mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda : Sungguh akan ada dari umatku suatu kaum yang akan menghalalkan zina, menghalalkan sutra, menghalalkan khamr dan menghalalkan alat-alat musik. Dan beberapa kelompok orang sungguh akan singgah di lereng sebuah gunung dengan binatang ternak mereka, lalu seseorang mendatangi mereka  -yaitu orang fakir- untuk suatu keperluan, lalu mereka berkata, ‘Kembalilah kepada kami besok hari.’ Kemudian Allah mendatangkan siksaan kepada mereka dan menimpakan gunung kepada mereka serta Allah mengubah sebagian dari mereka menjadi kera dan babi sampai hari Kiamat." [HR. Al-Bukhari, no. 5590. Cet. Baitul Afkaar ad-Dauliyyah]

Dalam Al-Qur'an Allah Ta'ala juga berfirman pada ayat yang lain :

«وَالَّذِينَ لَا يَشْهَدُونَ الزُّورَ وَإِذَا مَرُّوا بِاللَّغْوِ مَرُّوا كِرَامًا»

Artinya : "Dan orang-orang yang tidak menyaksikan perbuatan zur, dan apabila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaedah, mereka lalui (begitu saja) dengan menjaga kehormatan dirinya.” (QS. Al-Furqan : 72)

Berkata Asy-Syaikh ‘Abdurrahman bin Naashir As-Sa’di rahimahullah tentang firman Allah diatas :

والذين لا يشحدون الزور) أي : لا يحضرون الزور، أي : القول والفعل المحرم، فيجتنبون جميع المجالس، المستملة  على الأقوال المحرمة، أو الأفعال المحرمة، كالخوض في آيات الله، والجدال الباطل، والغيبة، والنميمة، والسب، والقذف، والاستهزاء، والغناء المحرم، وشرب الخمر، وفرش الحرير، والصور، ونحو ذلك، وإذا كانوا لا يشهدون الزور، فمن باب الأولى وأحرى، أن لا يقوله ويفعلوه

(Artinya : "Dan orang-orang yang tidak menyaksikan perbuatan zur) yaitu : tidak menghadiri perbuatan zur, yaitu ucapan dan perbuatan yang haram, maka jauhilah semua majelis yang mengandung ucapan-ucapan yang haram, atau perbuatan-perbuatan yang haram, seperti membicarakan tentang ayat-ayat Allah secara berlebihan, perdebatan yang bathil, ghibah dan namiimah (mengadu domba), mencaci-maki, menuduh berzina, mengolok-olok, nyanyian yang haram, meminum khamr, tikar dari sutra, gambar (makhluk bernyawa) dan selainnya. Apabila mereka tidak menyaksikan perbuatan zur, maka lebih-lebih lagi dan selainnya, mereka tidak akan mengatakan dan melakukan perbuatan zur". [Taisiirul Kariimir Rahmaan fii Tafsiiri Kalaamil Mannaan, hal. 587. Cet. Muassasatur Risaalah]

Ditanya Asy-Syaikh Bin Baz tentang permasalah musik dan nyanyian dan redaksinya sebagai berikut :

السؤال: السؤال الثالث في رسالة الإخوة السودانيين: نرجو منكم توضيح الآيات أو الأحاديث التي تحرم الغناء أفيدونا أفادكم الله

الجواب: نعم، يقول الله جل وعلا في كتابه المبين:(وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَشْتَرِي لَهْوَ الْحَدِيثِ لِيُضِلَّ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ وَيَتَّخِذَهَا هُزُوًا أُولَئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ مُهِينٌ.وَإِذَا تُتْلَى عَلَيْهِ آيَاتُنَا وَلَّى مُسْتَكْبِرًا كَأَنْ لَمْ يَسْمَعْهَا كَأَنَّ فِي أُذُنَيْهِ وَقْرًا فَبَشِّرْهُ بِعَذَابٍ أَلِيمٍ). [لقمان:6-7

.قال أكثر أهل العلم: إن المراد ب  ـ(لهو الحديث) الغناء فهو لهو الحديث

وقال بعضهم إضافة إلى ذلك: أيضًا أصوات المزامير و الملاهي ....... .......... هذا هو لهو الحديث و..... وهو من أسباب الضلالة عن سبيل الله والإضلال، فإن القلوب إذا تشبعت بالأغاني مرضت وقست وانحرفت فوقعت في الضلال والإضلال وثقل عليها سماع القرآن واستكبرت عن سماعه فهو يفضي بأهله إلى فساد القلوب وانحرافها وتثاقلها عن سماع القرآن وأنسها بالغناء .... من الكلام حتى قال عبد الله بن مسعود : «إن الغناء ينبت النفاق في القلب كما ينبت الماء الزرع » فهذا يبين لنا خطر الأغاني وشرها وآلات الملاهي

:وقد جاء في المعنى أحاديث تدل على تحريم الأغاني والملاهي ومن ذلك ما رواه البخاري في الصحيح عن النبي ﷺ أنه قال ليكونن من أمتي أقوام يستحلون الحر والحرير والخمر والمعازف»

الحر: هو الفرج الحرام الزنا، الحرير معروف وهو محرم على الرجال، والخمر معروف وهو كل مسكر، والمعازف: الأغاني والملاهي فأخبر النبي ﷺ أنه يأتي في آخر الزمان قوم يستحلونها وهي محرمة لضعف إيمانهم وقلة مبالاتهم، ولا حول ولا قوة إلا بالله. نعم

"Pertanyaan : yaitu pertanyaan ketiga dari surat para ikhwah dari Sudan : Kami berharap kepada kalian agar menjelaskan ayat-ayat atau hadits-hadits yang mengharamkan nyanyian, berikanlah kepada kami faedah. Semoga Allah memberi faedah kepada kalian.

Jawab : Ya, Allah Jalla wa 'Alaa dalam kitab-Nya yang jelas berfirman : (Artinya : "Dan di antara manusia (ada) orang yang mempergunakan perkataan yang tidak berguna untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Allah tanpa pengetahuan dan menjadikan jalan Allah itu olok-olokan. Mereka itu akan memperoleh azab yang menghinakan. Dan apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat kami dia berpaling dengan menyombongkan diri seolah-olah dia dia belum mendengarnya, seakan-akan ada sumbat dikedua telinganya ; maka beri kabar gembiralah dia dengan azab yang pedih). (QS. Lukman : 6-7).

Berkata sebagian besar ahli ilmu/ulama: yang dimaksud dengan (lahwal hadits) yaitu nyanyian itulah (lahwal hadits).

Berkata sebagian ahli ilmu menyandarkan kepada lahwal hadits : masuk juga suara-suara seruling dan alat-alat musik....... ......... ini merupakan lahwul hadits...... dan lahwal hadits (perkataan yang tidak berguna) merupakan diantara sebab-sebab kesesatan  dan disesatkan dari jalan Allah, karena hati apabila telah dicukupi dengan nyanyian, hati itu akan sakit dan mengeras, menyimpang serta terjatuh dalam kesesatan dan disesatkan. Berat bagi hati tersebut mendengarkan al-Qur'an, serta sombong dari mendengarkannya. Dan nyanyian, akan mengakibatkan hati pelakunya menjadi rusak, memalingkannya, menjadikannya berat mendengarkan al-Qur'an dan membuatnya lupa karena sebab nyanyian.... serta ucapan-ucapan lain, hingga Ibnu Ma'sud mengatakan : «Sesungguhnya nyanyian akan menumbuhkan kemunafikan didalam hati sebagaimana air menumbuhkan tanaman» Maka hal ini menunjukkan kepada kita akan bahayanya nyanyian dan buruknya alat-alat musik.

Sungguh telah datang secara makna, hadits-hadits yang menunjukkan atas haramnya nyanyian-nyanyian dan alat-alat musik, diantaranya, apa yang telah diriwayatkan oleh al-Bukhari dalam kitab shohihnya dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bahwasannya beliau bersabda : «Sungguh akan ada dari umatku suatu kaum yang mereka menghalalkan zina, menghalalkan sutra, menghalalkan khamr dan dan menghalalkan alat-alat musik». 

al-hira : yaitu kemaluan yang haram yang berbuat zina, al-hariir (sutra) : yang diketahui diharamkan bagi laki-laki, wal khamra : yang diketahui sebagai segala sesuatu yang memabukkan, wal ma'aazif  : yaitu nyanyian dan alat-alat musik. Karena itu Nabi shallallahu alaihi wa sallam telah mengabarkan bahwasannya akan datang diakhir zaman suatu kaum yang akan menghalalkan zina, sutra, khamr, nyanyian dan alat-alat musik padahal semua itu haram, karena kelemahan iman mereka dan sedikitnya perhatian/kepedulian mereka, laa haula wa laa quwwata illa billahNaam. [https://binbaz.org.sa/fatw."as/7763/%D8%A7%D8%AF%D9%84%D8%A9-%D8%AA%D8%AD%D8%B1%D9%8A%D9%85-%D8%A7%D9%84%D8%BA%D9%86%D8%A7%D8%A1]

Obat Candu Musik dan Cinta Kepada Para Musisi

Untuk mengobati penyakit hati adalah dengan jalan bertaubat kepada Allah. Allah "Azza wa Jalla berfirman :

يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ تُوبُوٓا۟ إِلَى ٱللَّهِ تَوْبَةًۭ نَّصُوحًا عَسَىٰ رَبُّكُمْ أَن يُكَفِّرَ عَنكُمْ سَيِّـَٔاتِكُمْ وَيُدْخِلَكُمْ جَنَّـٰتٍۢ تَجْرِى مِن تَحْتِهَا ٱلْأَنْهَـٰرُ يَوْمَ لَا يُخْزِى ٱللَّهُ ٱلنَّبِىَّ وَٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ مَعَهُۥ ۖ نُورُهُمْ يَسْعَىٰ بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَبِأَيْمَـٰنِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَآ أَتْمِمْ لَنَا نُورَنَا وَٱغْفِرْ لَنَآ ۖ إِنَّكَ عَلَىٰ كُلِّ شَىْءٍۢ قَدِيرٌۭ

Artinya : "Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuhaa (taubat yang semurni-murninya). Mudah-mudahan Rabbmu akan menutupi kesalahan-kesalahanmu dan memasukkanmu ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, pada hari ketika Allah tidak menghinakan Nabi dan orang-orang mukmin yang bersama dia; sedang cahaya mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, sambil mereka mengatakan: "Ya Rabb kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami dan ampunilah kami; Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu". (QS.At-Tahrim : 8)

Allah 'Azza wa Jalla juga berfirman :

قُلْ يَـٰعِبَادِىَ ٱلَّذِينَ أَسْرَفُوا۟ عَلَىٰٓ أَنفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا۟ مِن رَّحْمَةِ ٱللَّهِ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ يَغْفِرُ ٱلذُّنُوبَ جَمِيعًا ۚ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلْغَفُورُ ٱلرَّحِيم

Artinya : "Katakanlah: "Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS.Az zumar : 53)

Allah 'Azza wa Jalla juga berfirman dalam ayat yang lain :

 إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلتَّوَّٰبِينَ وَيُحِبُّ ٱلْمُتَطَهِّرِينَ

Artinya : "Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri." (QS.Al-Baqaroh : 222)

Allah 'Azza wa Jalla juga berfirman dalam surat Yusuf :

وَلَا تَا۟يْـَٔسُوا۟ مِن رَّوْحِ ٱللَّهِ ۖ إِنَّهُۥ لَا يَا۟يْـَٔسُ مِن رَّوْحِ ٱللَّهِ إِلَّا ٱلْقَوْمُ ٱلْكَـٰفِرُونَ

Artinya : "Dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir". (QS.Yusuf : 87)

Allah 'Azza wa Jalla juga berfirman dalam surat Az-Zumar :

قُلْ يَـٰعِبَادِىَ ٱلَّذِينَ أَسْرَفُوا۟ عَلَىٰٓ أَنفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا۟ مِن رَّحْمَةِ ٱللَّهِ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ يَغْفِرُ ٱلذُّنُوبَ جَمِيعًا ۚ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلْغَفُورُ ٱلرَّحِيمُ

Artinya : "Katakanlah: "Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS.Az-Zumar : 53)

Karena itu jangan pernah berputus asa dari rahmat Allah Ta'ala meskipun engkau seorang musisi yang telah bergelut dengan musik diseluruh usiamu, karena Allah adalah Dzat yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Masih ada kesempatan untuk bertobat dan mengumpulkan bekal-bekal takwa, karena bekal takwalah sebaik-baik bekal. Allah 'Azza wa Jalla berfirman :

«وَتَزَوَّدُوا۟ فَإِنَّ خَيْرَ ٱلزَّادِ ٱلتَّقْوَىٰ ۚ وَٱتَّقُونِ يَـٰٓأُو۟لِى ٱلْأَلْبَـٰبِ»

Artinya : "Berbekallah kalian, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa dan bertakwalah kepada-Ku hai orang-orang yang berakal." (QS. Al-Baqarah : 197)

Allah Ta'ala juga berfirman :

فَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ يَـٰٓأُو۟لِى ٱلْأَلْبَـٰبِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

Artinya : "Maka bertakwalah kepada Allah hai orang-orang berakal, agar kamu mendapat keberuntungan". (QS. Al-Maidah : 100)

Allah Ta'ala berfirman :

وَتَزَوَّدُوا۟ فَإِنَّ خَيْرَ ٱلزَّادِ ٱلتَّقْوَىٰ ۚ وَٱتَّقُونِ يَـٰٓأُو۟لِى ٱلْأَلْبَـٰبِ

Artinya : "Berbekallah kalian, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa dan bertakwalah kepada-Ku hai orang-orang yang berakal." (QS. Al-Baqarah : 197)

Allah Ta'ala juga berfirman :

قُل لَّا يَسْتَوِى ٱلْخَبِيثُ وَٱلطَّيِّبُ وَلَوْ أَعْجَبَكَ كَثْرَةُ ٱلْخَبِيثِ ۚ فَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ يَـٰٓأُو۟لِى ٱلْأَلْبَـٰبِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

Artinya : "Katakanlah: "Tidak sama yang buruk dengan yang baik, meskipun banyaknya yang buruk itu menarik hatimu, maka bertakwalah kepada Allah hai orang-orang berakal, agar kamu mendapat keberuntungan". (QS. Al-Maidah : 100)

Semoga tulisan ini bermanfaat untuk kami dan untuk kaum muslimin seluruhnya. Wallahu a'lam.

Faedah yang bisa diambil :

1. Haramnya musik dan nyanyian

2. Pengharaman musik dan nyanyian  berdasarkan nash al-Qur'an dan as-Sunnah

3. Semua Imam madzhab ijma' tentang haramnya alat-alat musik

4. Contoh alat-alat musik yang banyak digunakan di akhir zaman ini diantaranya ; biola, kecapi, drum, piano, rebab, seruling, gitar, semuanya haram

5. Menghancurkan alat-alat musik tidak ada denda bagi yang menghancurkannya

6. Teman-teman Abu Hanifah bahkan mengharamkan rebana, menunjukkan kesungguhan mereka menutup celah-celah keburukan

6. Nyanyian akan menumbuhkan kemunafikan didalam hati sebagaimana air menumbuhkan tanaman, mengurangi rasa malu, menguatkan syahwat, menurunkan muro'ah, mendekatkan kepada wanita,  khomr, serta zina.

8. Orang yang mendengarkan nyanyian, akan mengeraskan hatinya, menghalangi dia dari mendengarkan al-Qur'an, dari memahami makna-maknanya, membuatnya sombong dan merusak hatinya, dan lain sebagainya

9. Kewajiban bertaubat dari musik dan nyanyian

10. Keutamaan bertaubat kepada Allah

Serta masih banyak faedah lainnya. Wallahu a'lam.

***

Gresik, 6 Jumadil Awwal 1445 H/21November 2023

Penulis : Abu Dawud ad-Dombuwiyy

Artikel : Meciangi-d.blogspot.com

Selasa, 16 Agustus 2022

99 CATATAN DOSA

 

Bismillah, alhamdulillahi Rabbil 'aalamiin.  Wa shallallahu 'ala Nabiyyina Muhammadin wa 'ala aalihi wa shahbihi ajma'iin. Wa ba'du.

Bila disebutkan dosa, maka kita akan berpikir tentang satu dua dosa. Tidak demikian sobat, nanti pada hari kiyamat ada seorang laki-laki yang menghadap Allah dipersidangan dengan membawa 99 catatan dosa, satu catatan dibentangkan sejauh mata memandang. Dia tidak memiliki kebaikan sedikitpun kecuali satu, yaitu kartu sakti bertuliskan laa ilaaha illallah, yaitu kalimat tauhid yang beratnya melebihi langit dan bumi.

Dalam sebuah hadits yang diriwayat oleh Imam Tirmidzi dan beliau menghasankannya, Imam adz-Dzahabi juga menshohihkannya, bahwasanya Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: 

((يصاح برجل من أمتي على رءوس الخلائق يوم القيامة فينشر له تسع وتسعون سجلاً كل سجل منها مد البصر، ثم يقال أتنكر من هذا شيئا؟ فيقول: لا يا رب فيقال: ألك عذر أو حسنة؟ فيهاب الرجل فيقول: لا يا رب، فيقال: بلى إن لك عندنا حسنة، وأنه لا ظلم عليك، فيخرج له بطاقة فيها: أشهد أن لا إله إلا الله وأن محمدًا عبده ورسوله فيقول: يا رب ما هذه البطاقة مع هذه السجلات؟ فيقال: إنك لا تظلم، فتوضع السجلات في كفة والبطاقة في كفة, فطاشت السجلات وثقلت البطاقة)).

((Ada seseorang yang terpilih dari umatku pada hari kiamat dari kebanyakan orang ketika itu, lalu dibentangkan kartu catatan amalnya yang berjumlah 99 kartu. Setiap kartu jika dibentangkan sejauh mata memandang. Kemudian Allah menanyakan padanya, “Apakah engkau mengingkari sedikit pun dari catatanmu (dosamu)  ini?” Ia menjawab, “Tidak sama sekali wahai Rabbku.” Allah bertanya lagi, “Apakah kamu memiliki udzur atau kebaikan di sisimu?” Dipanggillah laki-laki tersebut dan ia berkata, “Tidak sama sekali wahai Rabbku.” Allah pun berfirman, “Sesungguhnya ada kebaikanmu yang masih kami catat. Dan sungguh tidak akan ada kezaliman atasmu pada hari ini.”Lantas dikeluarkanlah satu bitoqoh (kartu) yang bertuliskan syahadat laa ilaha illallah wa anna muhammadan ‘abduhu wa rasuuluh. Lalu ia bertanya, “Apa (manfaat) kartu ini yang bersama dengan catatan-catatanku yang penuh dosa tadi?” Allah berkata kepadanya, “Sesungguhnya engkau tidak didzalimi.” Lantas diletakkanlah kartu-kartu dosa di salah satu daun timbangan dan kartu laa ilaha illallah di daun timbangan lainnya. Ternyata daun timbangan yang penuh dosa tersebut terkalahkan dengan beratnya kartu bertulis laa ilaha illalah tadi)). [Syarh al-Muyassar Likitaabit Tauhiid lil Imaam Asy-Syaikh Muhammad bin 'Abdil Wahhaab penyusun 'Abdullah Al-Qaasim, hal. 36]

✅ Faedah yang bisa diambil :

1. Ada seorang laki-laki dari umat Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam yang memiliki 99 catatan dosa.

2. Satu catatan dosa jika dibentangkan, jaraknya sejauh mata memandang.

3. Ditanyakan kepada laki-laki ini, "Apakah engkau mengingkari sedikitpun dari catatan (dosa) mu ini?" Dia tidak mengingkarinya alias membenarkannya, ini menunjukkan bahwa itu memang dosa-dosanya.

4. Ditanya lagi, "Apakah kamu memiliki udzur atau kebaikan sedikitpun disisimu?" Dia mengatakan tidak. Hal ini mengndikasikan bahwa dia sengaja melakukan dosa itu, bukan karena paksaan atau karena ancaman dari orang lain.

5. Ketika Allah berfirman : "Ada kebaikanmu yang masih kami catat". Hal ini menunjukkan bahwa semua amal yang dilakukan oleh seorang hamba, telah tercatat rapi dalam buku catatan amal oleh para malaikat.

6. Kalimat, "Sungguh tidak ada kedzoliman atasmu pada hari ini.", hal ini menunjukkan bahwa Allah 'Azza wa Jalla tidak pernah berbuat dzolim sedikitpun kepada hamba-hamba-Nya meskipun dia adalah ahli maksiat dan pelaku dosa besar.

7. Dikeluarkan kartu bertulis, "Laa ilaaha illallah muhammadan 'abduhu wa rasuluuhu sebagai satu-satunya amal kebaikan yang pernah dia lakukan. Hal ini menunjukkan bahwa laki-laki ini termasuk ahli maksiat, dan melakukan semua jenis dosa kecuali syirik.

8. Jawaban laki-laki ini, "Apa (manfaat) kartu ini yang bersama dengan catatan-catatanku yang penuh dosa tadi?" Ucapan ini menunjukkan ucapan keputusasaan, seolah dia telah yakin bahwa adzab akan segera menimpanya. 

9. Firman Allah,  "Sesungguhnya engkau tidak akan terdzolimi". Hal ini sebagai penegasan dari Alah bahwa Dia Maha adl, dan Allah tidak akan pernah mendzolimi seorang hamba-pun.

10. Kalimat Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, "Lantas diletakkanlah kartu-kartu dosa disalah satu daun timbangan dan kartu laa ilaaha illallah di daun timbangan lainnya". Peristiwa ini menunjukkan bahwa nanti ada mizan (timbangan), untuk menimbang amal baik dan amal buruk seluruh hamba. Dan mizan memiliki dua daun timbangan, sedangkan yang akan ditimbang adalah buku catatan amal seorang hamba, meskipun dalam hadits yang lain yang akan ditimbang adalah jasad masing-masing kita. Dan Allah adalah Dzat yang Maha Adil. Allah Ta'ala berfirman :

«وَنَضَعُ ٱلْمَوَٰزِينَ ٱلْقِسْطَ لِيَوْمِ ٱلْقِيَـٰمَةِ فَلَا تُظْلَمُ نَفْسٌۭ شَيْـًۭٔا ۖ وَإِن كَانَ مِثْقَالَ حَبَّةٍۢ مِّنْ خَرْدَلٍ أَتَيْنَا بِهَا ۗ وَكَفَىٰ بِنَا حَـٰسِبِينَ»

Artinya  : "Kami akan memasang timbangan yang tepat pada hari kiamat, maka tiadalah dirugikan seseorang barang sedikitpun. Dan jika (amalan itu) hanya seberat biji sawipun pasti Kami mendatangkan (pahala)nya. Dan cukuplah Kami sebagai pembuat perhitungan." (QS. Al-Anbiya : 47).

11. Kalimat Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, "Ternyata daun timbangan yang penuh dosa tersebut terkalahkan dengan beratnya kartu bertulis laa ilaaha illallah tadi". Hal ini menunjukkan bahwa segala sesuatu di langit dan di bumi jika ditimbang dengan kalimat tauhid Laa ilaaha illallah muhammadan 'abduhu wa rasuluuhu, niscaya akan ringan segala yang di langit dan di bumi karena tidak ada yang dapat menandingi beratnya kalimat laa ilaaha illallah sebagaimana dalam sebuah hadits:

عن أبي سعيد الخدري عن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال : ((قال موسى : يارب، علمني شيئا أذكرك وأدعوك به. قال : قل ياموسى : لا إله إلا الله. قال : يارب كل عبادك يقولون هذا. قال : ياموسى، لو أن السموات السبع وعامرهن غيرى، والأرضين السبع في كفة، ولا إله إلا الله في كفة، مالت بهن لا إله إلا الله.

Dan dari Abu Said Al-Khudriy dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda : ((Musa mengatakan : Wahai Rabb-ku, ajarkan aku sesuatu yang aku akan mengingatmu dan berdoa kepada-Mu dengannya. Allah berfirman : Wahai  Musa katakan : La ilaaha illallah. Musa berkata : Wahai Rabb-ku, seluruh hamba-Mu mengucapkan ini. Allah berfirman : Wahai Musa, Seandainya langit yang tujuh lapis beserta seluruh penghuninya selain Aku serta bumi yang tujuh lapis (beserta isinya) berada dalam satu daun timbangan,  dan kalimat la ilaaha ilallah berada dalam satu daun timbangan yang lain, maka kalimat la ilaaha ilallah lebih berat dari semua itu)). [Fathul Majiid Syarh Kitaabit Tauhiid, hal.49-51. Cet. Daarul Kutub Al-Ilmiyyah]

12. Beratnya kalimat tauhid

13. Besarnya pahala orang-orang yang bertauhid

14. Makna kalimat tauhid Laa ilaaha illallah artinya "Tidak ada sesembahan yang benar selain Allah."

15. Orang yang mengucapkan kalimat tauhid laa ilaaha illallah dia harus benar-benar memenuhi 2 rukunnya, (1) nafiy (meniadakan), (2) isbat (menetapkan), selain itu dia juga harus memenuhi 7 syaratnya yaitu : (1) ilmu, (2) yakin, (3) ikhlas, (4) jujur, (5) cinta, (6)  tunduk, (7) menerima

16. Orang yang mendapatkan ampunan Allah dari dosa-dosa adalah orang-orang yang benar-benar murni tauhidnya, yaitu yang memenuhi rukun dan syarat-syaratnya

17. Adanya pelaku dosa besar yang mendapatkan ampunan dari Allah Ta'ala akibat tauhidnya yang murni

18. Pelaku dosa besar itu tidak kafir berdasarkan hadits diatas, tidak seperti keyakinan kaum khawarij yang mengkafirkan seluruh pelaku dosa besar

19. Diantara dosa besar yang bisa mengeluarkan pelakunya dari Islam adalah dosa syirik

20. Bahayanya dosa syirik.

21. Wajibnya menjauhi dosa syirik.

22. Pentingnya mempelajari ilmu tauhid

23. Luasnya rahmat dan ampunan Allah 'Azza wa Jalla atas pelaku dosa besar

Serta masih banyak faedah lainnya. Semoga yang sedikit ini bermanfaat untuk kita semua dan menjadi pemberat timbangan amal kebaikan kita dihari kiyamat.

***

Srowo - Sidayu - Gresik - Jawa Timur : 18 Muharrom 1444 H/16 Agustus 2022

Penulis : Abu Dawud ad-Dompuwiyy
Artikel : Meciangi-d.blogspot.com

Sabtu, 02 Juli 2022

BAHAYA FITNAH WANITA

 


Bismillah, alhamdulillahi Rabbil 'aalamiin, wa shallallahu 'ala Nabiyyina Muhammadin wa 'ala aalihi wa shahbihi ajma'iin, wa ba'du.

Berbicara tentang fitnah wanita, maka fitnah wanita merupakan fitnah terbesar besar bagi laki-laki, baik remaja maupun dewasa, tua maupun anak-anak. Oleh karena itu, jangan pernah merasa aman dari fitrah wanita wahai saudaraku, karena sudah banyak singa-singa mati bergelimpangan di padang pasir, itu tidak lain kecuali karena fitnah wanita. Betapa banyak panglima-panglima perang mampu mengalahkan ribuan pasukan musuh dalam medan pertempuran, namun sangat jarang mereka mampu mengalahkan seorang wanita. Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :


عن أسامة بن زيد رضي الله عنهما، عن النبي صلى الله عليه وسلم قال : ((ما تركتُ بعدي فتنة أشدَّ على الرِّجال
 .من النساء)). [أخرجه البخاري ٥٠٩٦، ص : ١٦١٦، مسلم ٢٧٤٠، ص : ١٠٩٥. بيت الفكار الدولية]

Dari Usamah bin Zaid radhiyallahu 'anhuma, dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda : ((Aku tidak meninggalkan sepeninggalku suatu fitnah yang lebih berbahaya bagi laki-laki daripada wanita)). [HR. Al-Bukhari no.5096, (hal.1010) Muslim no.2740, (hal.1095). Cet. Baitul Afkar ad-Dauliyyah].

Dan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda dalam hadits riwayat Imam Al-Bukhari, dan Imam Al-Bukhari membawakan sanadnya sebagai berikut :


حدثنا ابن أبي مريم : أخبرنا محمد بن جعفر قال :  أخبرني زيد، عن عياض بن عبد الله، عن أبي سعيد الخدري رضي الله عنه : خرج رسول الله في أضحى أو فطر إلى المصلى، ثم انصرف، فواعظ الناس وأمرهم بالصدقة، فقال : ((أيها الناس، تصدقوا)). فمر على النساء، فقال : ((يا معشر النساء! تصدقن، فأني رأيتكن أكثر أهل النار)). فقلن : وبم ذلك يا رسول الله؟ قال : ((تكثرن اللعن، وتكفرن العشير، ما رأيت من ناقصات عقل ودين، أذهب للب الرجل الحازم، من إحداكن يا معشر النساء)). [أخرجه البخاري
.[١٤٦٢، ص : ٢٨٥. بيت الفكار الدولية

"Menceritakan kepada kami Ibnu Abi Maryam : Mengabarkan kepada kami Muhammad bin Ja'far, ia berkata : Mengabarkan kepadaku Zaid, dari 'Iyadh bin 'Abdillah, dari Abu Sa'id al-Kudriy radhiyallahu 'anhu : Rasulullah keluar pada hari raya 'Idul 'Adha atau 'Idul Fitr menuju lapangan (untuk melaksanakan sholat), kemudian berpaling, lalu berkhutbah kepada manusia dan memerintahkan mereka untuk bersedekah, maka beliau bersabda : ((Wahai sekalian manusia, bersedekahlah kalian)). Kemudian beliau melewati kaum wanita, lalu beliau bersabda : ((Wahai para wanita! Bersedekahlah kalian, karena sesungguhnya aku melihat kalian termasuk yang paling banyak dari penghuni neraka)). Maka kami berkata : Karena sebab apa itu wahai Rasulullah? Beliau bersabda : ((Kalian banyak melaknat dan mengkufuri kebaikan suami, dan aku tidak pernah melihat orang yang kurang akal dan agamanya paling bisa menghilangkan akal laki-laki yang kokoh daripada salah seorang kalian wahai kaum wanita))." [HR. Al-Bukhari no. 1462, (hal 285). Pustaka Baitul Afkaar ad-Dauliyyah]

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda dalam hadits riwayat Imam Muslim, dan Imam Muslim menyebutkan sanadnya :

عن عبد الله ابن عمر، عن رسول الله صلى الله عليه وسلم أنه قال : ((يا معشر النساء! تصدقن وأكثرن الإستغفار، فأني رأيتكن أكثر أهل النار)). فقالت امرأة منحن، جزلة : وما لنا يا رسول الله أكثر أحل النار، قال : ((تكثرن اللعن، وتكفرن العشير، وما رأيت
.[من ناقصات عقل ودين أغلب لذي لب منكن)). [أخرجه مسلم ٧٩، ص : ٦٠. بيت الفكار الدولية

"Dari Ibnu Umar, dari Rasulullah shallallahu 'alaihiwa sallam bahwasannya beliau bersabda : ((Wahai sekalian wanita! Bersedekahlah kalian dan perbanyaklah istighfar, karena sesungguhnya aku melihat kalian termasuk yang paling banyak dari penghuni neraka)). Berkata salah seorang wanita diantara mereka yang cerdas : Apa sebab kami menjadi penghuni neraka paling banyak wahai Rasulullah? Beliau bersabda : ((Karena kalian banyak melaknat dan mengkufuri kebaikan suami, dan aku tidak pernah melihat orang yang kurang akal dan agamanya paling bisa mengalahkan akal laki-laki yang kokoh daripada kalian))[HR. Muslim no. 79 (hal. 60). Pustaka Baitul Afkaar ad-Dauliyyah]

Pada hadits-hadits diatas Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam menyebutkan bahwa wanita orang yang kurang aqal dan agamanya, tapi mereka mampu menghilangkan aqal laki-laki yang paling kuat sekalipun. Karena itulah Allah Ta'ala berfirman :

«وَخُلِقَ ٱلْإِنسَـٰنُ ضَعِيفًۭا»

Artinya : "Dan manusia dijadikan bersifat lemah." (QS. An-Nissa' : 28)

Berkata Ibnu Katsir dalam menafsirkan ayat diatas : 

وقال ابن أبي حاتم : حدثنا محمد بن إسماعيل، حدثنا وكيع عن سفيان، عن ابن طاوس، عن أبيه «وَخُلِقَ ٱلْإِنسَـٰنُ ضَعِيفًۭا» أي في
[أمر النساء. وقال وكيع : يذهب عقله عندهن. [تفسير ابن كثير، ١\٤٣٤. دار الكتب العلمية

Berkata Ibnu Abi Hatim mengenai ayat diatas : “Menceritakan kepada kami Muhammad bin Ismail, menceritakan kepada kami Waki' dari Sufyan dari Ibnu Thawus, dari ayahnya dia berkata, “Manusia diciptakan dalam keadaan lemah” yaitu lemah dalam urusan wanita. Dan berkata Waki' : “Akalnya (laki-laki) hilang ketika disisi wanita.” [Tafsiir Ibni Katsir, 1/434. Pustaka Darul Kutub Al-Ilmiyah]

Berkata Ibnul Jauzi dalam kitabnya Dzammul Hawa : 

وعان سفيان الثوري في قوله تعالى : «وَخُلِقَ ٱلْإِنسَـٰنُ ضَعِيفًۭا» [النساء : ٢٨]، قال : المرأة تمر بالرجل، فلا يملك نفسه عن النظر إليها، ولا ينتفع بها، فأي شيء أضعف من هذا؟! [ذم الهوى، لإمام أبي الفرج عبد الرحمان بن الجوزي، ص : ١١١. دار الكتب
 .[العرب

"Dari Sufyan ats-Tsauriy mengenai firman Allah Ta'ala : “Manusia diciptakan dalam keadaan lemah”. (An-Nisaa' : 28) dia berkata : Seorang wanita melewati laki-laki. Laki-laki ini tidak mampu menahan dirinya dari memandang wanita ini dan ia tidak dapat pula mengambil manfaatnya. Apakah yang lebih lemah daripada ini?" [Dzammul Hawa, Imam Abul Faraj Abdurrahman Ibnul Jauziy, hal : 111. Pustaka Daarul Kutub al-Arab]

Apa yang telah kita dipaparkan diatas, baik dari Al-Qur'an, hadits serta atsar para ulama salaf, menunjukkan bahwa wanita adalah fitnah yang paling besar bagi laki-laki yang hendaknya difahami oleh setiap wanita agar mereka tidak menimbulkan fitnah bagi kaum muslimin dengan sikap-sikap yang melampaui batas seperti menampakakan auratnya, dan hendaknya mereka menjaga harkat dan martabat dirinya, karena mereka adalah fitnah terbesar bagi laki-laki. 

Oleh karena itu, sang iblis dia sangat mengetahui hal ini, karenanya dia akan menjadikan wanita sebagai umpan terbaik untuk menghancurkan laki-laki. Kita mungkin pernah mendengar kisah tentang ahli ibadah dari Bani Israil yang kuat imannya, namun dengan umpan seorang wanita iblis mampu membuatnya binasa. Mulai dari membawakan makanan untuknya, mengobrol dengannya, berkholwat dengannya, bersentuhan dengannya, lalu menzinainya, membunuh anak hasil zinanya, hingga  diapun membunuh wanita tersebut. Akibat perbuatannya ini, dia ditangkap dan diseret, kemudian di salib di khalayak ramai hingga dia-pun mati diatas tiang salib dalam keadaan kafir. Waliyaadzubillah. 

Tahap demi tahap dilalui oleh ahli ibadah ini dengan sempurna, awalnya bermula dari memberikan makanan, mengobrol, lalu kholwat, ujungnya adalah perzinaan dan pembunuhan. Karena itu berkata orang-orang yang bijak :

"Jangan engkau bermain-main dengan wanita, sebab ia adalah fitnah terbesar laki-laki.
Jika engkau mencoba mendekatinya, maka engkau akan binasa dalam hitungan waktu.
Seandainya engkau perturutkan hawa nafsumu, berarti engkau melanggar aturan-Nya.
Bertaubatlah kepada Allah dari dosa-dosa, karena itulah jalan kebahagiaan dan keselamatan."

BANI ISROIL HANCUR KARENA WANITA

Sebagaimana dari kandungan makna hadits-hadits yang telah disebutkan diatas, sejatinya wanita itu sangat lemah, tetapi ia sangat mampu mengalahkan akal laki-laki yang paling kuat sekalipun. Dari pemaparan-pemaparan ini, maka dapat diambil faedah bahwa wanita memiliki potensi yang besar untuk merusak dan menundukkan akal laki-laki yang paling kuat sekalipun.

Pada zaman dahulu, umat-umat sebelum kita seperti bani Isroil, mereka telah hancur binasa karena sebab wanita, sebagaimana kisah seorang ahli ibadah  dari Bani Isroil diatas. Laki-laki ini telah beribadah kepada Allah selama seratus tahun, tapi karena terfitnah dengan kecantikan seorang wanita, dia-pun tergoda dan hancur hingga mati diatas tiang salib dalam keadaan kafir. Karena demikian pantas Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mengingatkan kita tentang bahaya wanita dalam sabdanya yang telah berlalu :

 ((ما تركتُ بعدي فتنة أشدَّ على الرِّجال من النساء))
[أخرجه البخاري ٥٠٩٦، ص : ١٦١٦، مسلم ٢٧٤٠، ص : ١٠٩٥. بيت الفكار الدولية]

((Aku tidak meninggalkan sepeninggalku suatu fitnah yang lebih berbahaya bagi laki-laki daripada wanita)). [HR. Al-Bukhari no.5096, (hal.1010) Muslim no.2740, (hal.1095). Cet. Baitul Afkar ad-Dauliyyah].
 
Pada hadits diatas, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menyebutkan tidak ada sepeninggal beliau suatu fitnah yang paling berbahaya bagi laki-laki kecuali wanita. Penjelasan ini menunjukkan bahwa fitnah wanita adalah fitnah yang terbesar atau terdahsyat yang menimpa para laki-laki. Dalam hadits yang lain :

،عن أبي سعيد الخدري، عن النبي صلى الله ليه وسلم، قال : ((إن الدنيا حلوة خضرة، وإن الله مستخلفكم فيها فينظر كيف تعملون
 .((فاتقوا الدنيا واتقوا النساء؛ فإن أول فتنة بني إسرائيل كانت في النساء
 [أخرجه مسلم ٢٧٤٢، ص : ١٠٩٦. بيت الفكار الدولية]

Dari Abu Sa'id al-Khudriy, dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda : ((Sesungguhnya dunia itu manis dan hijau, dan sesungguhnya Allah (telah) menjadikan kalian khalifah diatas bumi kemudian Dia akan melihat apa yang kalian amalkan, maka berhati-hatilah kalian terhadap dunia dan berhati-hatilah kalian terhadap wanita, karena ujian pertama yang menimpa Bani Isroil adalah pada kaum wanita)) [HR. Muslim no.2742, (hal.1096). Cet. Baitul Afkar ad-Dauliyyah]

Pada hadits ini Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam mengingatkan kita tentang dua hal, (1) berhati-hati dari dunia, (2) berhati-hati dari wanita. Sebenarnya wanita sejatinya masih termasuk bagian dari dunia, tapi disebutkan secara khusus setelah penyebutan dunia secara umum menunjukkan fitnah wanita merupakan fitnah dunia yang sangat dahsyat.

SYAITHON AKAN MENGHIASI WANITA KETIKA MEREKA KELUAR DARI RUMAHNYA

Jika seorang wanita keluar dari rumahnya, syaithon akan menghiasinya sehingga tampaklah dia sebagai fitnah bagi laki-laki. Dalam hadits riwayat Imam Muslim no.1403 atau dalam Misykaatul Mushaabiih, no. 3105 disebutkan :

وعن جابر قال، قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : ((إن المرأة تقبل في صورة شيطان، وتدبر في صورة شيطان)). رواه مسلم
 [مشكاة المصابيح ٣١٠٥، ص : ٩٣٢. المكتبة الإسلامي]

Dari Jabir, ia berkata : Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda : ((Sesungguhnya wanita menghadap kedepan dalam bentuk syaithon dan menghadap ke belakang dalam bentuk syaithon)). Diriwayatkan oleh Muslim. [Misykaatul Mushaabiih, no. 3105, (hal.932). Al-Maktabah al-Islaam]

Imam Nawawiy rahimahullah dalam Syarah Shohih Muslim menjelaskan maksud hadits diatas sebagai berikut :

قوله صلى الله عليه وسلم: ((إنَّ المرأة تُقبِل في صورة شيطان، وتدبر في صورة شيطان))، قال العلماء: معناه الإشارة إلى الهوى، والدُّعاء إلى الفتنة بها؛ لِما جعله الله تعالى في نفوس الرجال من الميل إلى النِّساء والالتذاذ بنظرهنَّ وما يتعلق بهنَّ، فهي شبيهة بالشيطان في دعائه إلى الشرِّ بوسوسته وتزيينه له، ويُستنبط من هذا أنَّه ينبغي لها ألَّا تخرج بين الرجال إلا لضرورة، وأنَّه ينبغي للرجل الغض عن ثيابها والإعراض عنها مطلقًا؛ اهـ

"Sabda Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam ((Sesungguhnya wanita menghadap kedepan dalam bentuk syaithon dan menghadap ke belakang dalam bentuk syaithon)), berkata para ulama : Maknanya adalah isyarat kepada hawa nafsu, dan seruan menuju fitnah kepadanya ; (yaitu) tatkala Allah Ta'ala menjadikan jiwa laki-laki condong kepada para wanita dan kenikmatan memandangnya dan apa saja yang berkaitan dengannya, maka hal itu menyerupai syaithon dalam seruannya kepada kesamaran, was-was, serta menjadikan indah (perbuatan tersebut) bagi laki-laki. Dan pengambilan dalil dari hal ini yaitu semestinya bagi wanita agar ia tidak keluar ditengah laki-laki kecuali dalam keadaan darurat, dan selayaknya bagi laki-laki agar tidak memperhatikan pakaian-pakaian para wanita dan berpaling darinya secara mutlak." [Shahih Muslim Bisyarh Nawaawiy, juz 9/254. Cet. Muassassah Qurthubah]

Dalam hadits yang lain yang sanadnya di shohihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albaniy rahimahullah dari hadits Imam Tirmidzi, bahwasannya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda : 

.[المرأة عورة، فإذا خرجت استشرفها الشيطان)). رواه الترمذي. [مشكاة المصابيح ٣١٠٩، ص : ٩٣٣. المكتبة الإسلامي))

((Wanita itu aurat. Apabila dia keluar, setan terus memandanginya (untuk menghias-hiasinya sehingga menimbulkan fitnah bagi laki-laki))). Diriwayatkan oleh Tirmidzi. [Misykaatul Mushaabiih, no.3109, (hal.933). Al-Maktabah al-Islaam]

Pada hadits-hadits diatas sangat jelas menunjukkan kepada kita bahwa wanita jika mereka keluar dari rumahnya, syaithon akan menghias-hiasinya sehingga laki-laki akan mudah terfitnah kepadanya. Kedua bahwa wanita baik ia tampak dari depan atau dari belakang, sama saja tetap menimbulkan fitnah seperti bisikan-bisikan syaithon. Ketiga, hendaknya para wanita tidak keluar rumah sembarangan apalagi sampai berjalan melewati laki-laki kecuali dalam keadaan darurat. 
 
Pada zaman sekarang, wanita tidak hanya keluar rumah melewati sekelompok laki-laki, berbicara dengan mereka, berikhtilat dengannya, dll, tapi justru sangat banyak diantara para wanita yang sengaja bercanda ria dengan  laki-laki yang bukan mahromnya, pegangan tangan, berikhtilat (campur baur antara laki-laki dan perempuan), bahkan foto bareng. Dan yang tidak kalah bahayanya, sikap wanita yang sengaja menampakkan foto selfie mereka di dunia maya, bertebaranlah foto-foto mereka dimana-mana, dan foto-foto itupun menjadi fitnah dan menjadi wasilah munculnya maksiat bagi orang lain. Dan betapa banyak sesuatu yang remeh dalam pandangan wanita, tapi sangat besar dampak fitnahnya bagi laki-laki. Karena itu bertakwalah kepada Allah wahai para wanita, karena sesungguhnya kalian adalah fitnah terbesar laki-laki.

PAKAIAN WANITA DAN PANDANGAN TERHADAPNYA 

Pakaian wanita adalah penutup aurat, tapi ia juga bak perhiasan yang bisa menimbulkan fitnah. Seseorang bila mengenakan pakaian yang indah tentunya dia akan terlihat sempurna dan menawan. Mengenakan pakaian yang indah sebenarnya bukan hal yang tercela bagi wanita, sebab Allah Ta'ala- sendiri adalah Dzad yang Maha Indah dan mencintai keindahan. Namun tatkala keindahan pakaian itu dihiasi dengan pita-pita, ukiran-ukiran, renda-renda dan motif-motif bunga atau gambar kupu-kupu dan lain sebagainya, maka akan semakin menambah keindahan seorang wanita. Wanita hukum asalnya indah dan diciptakan dengan penuh keindahan, tatkala ia menghiasi dirinya dengan pakaian-pakaian seperti itu, maka keindahannya akan semakin terpancar dan ini sangat berbahaya bagi wanita itu sendiri. Jika demikian keadaannya maka berhati-hatilah wahai para wanita, pakaian yang awalnya berfungsi sebagai penutup aurat akan berubah menjadi pakaian perhiasan yang bisa menimbulkan fitnah  bagi laki-laki. Ingat saudari-saudariku, pandangan mata itu bisa menimbulkan syahwat di dalam hati dan membunuh pelakunya secara perlahan. Menghancurkan jiwa-jiwa yang kering dan mati sehingga semakin mati, melalaikan qalbu-qalbu yang lalai dari mengingat akhirat sehingga semakin terkunci, membuai manusia dalam "kenikmatan" syahwat dan jauh dari dzikrullah, bahkan akan membuat laki-laki akan terusik jiwanya dan terpenjara hati nuraninya. Karena itu perhatikan pakaian-pakaian kalian wahai para wanita dan bertakwalah kalian kepada Allah 'Azza wa Jalla dari hal itu. 

Saudariku, sebagaimana yang kita ketahui bahwa syaithon sangat pandai menghias-hiasi wanita agar menjadi fitnah bagi laki-laki. Itulah sebabnya Imam an-Nawawiy menyebutkan pada syarah hadits ((Sesungguhnya wanita menghadap kedepan dalam bentuk syaithon dan menghadap ke belakang dalam bentuk syaithon)), maksud Imam An-Nawawiy : "Selayaknya bagi laki-laki agar tidak memperhatikan pakaian-pakaian para wanita dan berpaling darinya secara mutlak.", artinya Imam An-Nawawi melarang hal ini karena akan menimbulkan fitnah. Itulah sebabnya Ibnul Jauzi membawakan sebuah atsar tentang ucapan Al-Alla' bin Zayyad yang melarang laki-laki memandang kepada selendangnya seorang wanita, Ibnul Jauzi rahimahullah mengatakan :

أخبرنا محمد بن عبد الباقي، قال : أنبأنا حمد بن أحمد، قال :  أنبأنا أبو نعيم أحمد بن عبد الله، قال : حدثنا أبو بكر بن مالك، قال : حدثنا عبد الله بن أحمد، قال : حدثني أبي، قال : حدثنا معتمر، عن إسحاق بن سويد، عن العلاء بن زياد، قال : لا تتبع بصرك رداء
 .[امرأة، فإن النظرة تجعل في القلب شهوة. [ذم الهوى، لإمام أبي الفرج عبد الرحمان بن الجوزي، ص ١١٦. دار الكتب العرب

Muhammad bin Abdul Baqi bercerita kepada kami, ia berkata : Hamd bin Ahmad bercerita kepada kami, ia berkata : Abu Nu'aim Ahmad bin Abdillah bercerita kepada kami, ia berkata : Abu Bakar bin Malik bercerita kepada kami, ia berkata : Abdullah bin Ahmad bercerita kepada kami, ia berkata : Ayahku bercerita kepadaku, ia berkata : Mu'tamir bercerita kepada kami dari Ishaq bin Suwaid dari Al-Alla' bin Zayyad, ia berkata : 'Janganlah pandanganmu mengikuti selendangnya wanita, karena sesungguhnya pandangan menimbulkan syahwat di dalam hati." [Dzammul Hawa, Imam Abul Faraj Abdurrahman Ibnul Jauziy, hal : 116. Pustaka Daarul Kutub al-Arab].

Bila selendang para wanita saja dapat menimbulkan fitnah, lalu bagaimana dengan pakaiannya? Ibnul Jauzi mengatakan :

وكان في أصرنا أبو الحسن بن أحمد جحشويه الحربي، لا يمشي إلا وعلى رأسه طرحة، ليكف بذلك بصره عن الاطلاق. ودخل دار أخت له فرأى لالجة امرأة، فقال : نحوا تلك اللالجة، كي لا أنظر إليها. [ذم الهوى، لإمام أبي الفرج عبد الرحمان بن الجوزي، ص
[١١٢. دار الكتب العرب:

"Adalah Abul Hasan bin Ahmad Jahrawih al-Harbi setiap kali berjalan ia memakai selendang diatas kepalanya agar memelihara pandangannya sehingga tidak liar. Ia masuk ke rumah saudari perempuannya. Lalu ia melihat pakaian perempuan. Ia berkata : Singkirkan pakaian ini dariku agar aku tidak memandangnya." [Dzammul Hawa, Imam Abul Faraj Abdurrahman Ibnul Jauziy, hal : 112. Pustaka Daarul Kutub al-Arab].

Syaithon memang pintar menghiasi wanita dengan syahwat, sampaipun selendangnya. Demikianlah yang telah ada atsarnya dari para salaf tentang fitnah wanita. Seperti itu juga pada pakaian-pakaian wanita yang berhiaskan gambar kupu-kupu, bunga, renda dan pita-pita yang menarik, serta pakaian-pakaian yang menampilkan corak-corak warna yang beraneka ragam, yang semua itu tentu saja bisa menimbulkan fitnah bagi laki-laki yang memiliki syahwat didalam hatinya. Karena demikian, hendaknya bagi para wanita berhati-hati dan menjaga dirinya, menjaga kehormatannya, menjaga martabatnya, menjaga iffahnya, menjaga kemuliaan dirinya sebagai wanita terhormat, sebab wanita terormat adalah wanita yang selalu menjaga harkat dan martabat dirinya dimanapun dia berada.

BAHAYA BERJALAN DIBELAKANG WANITA 

Dan termasuk yang bisa menimbulkan fitnah adalah berjalan dibelakang wanita. Berkata Ibnul Jauzi dalam Dzammul Hawa :

أخبرنا ابن ناصر، قال : أنبأنا ابن يوسف، قال : أنبأنا ابن المذهب، قال : أنبأنا ابن مالك، قال : بلغنا أن سليمان قال لبنه : يا بني، امس وراء الأسد والأسود، ولا تمس وراء امرأة. [ذم الهوى، لإمام أبي الفرج عبد الرحمان بن الجوزي، ص : ١١٥. دار الكتب العرب]

Ibnu Nashir bercerita kepada kami, ia berkata, Ibnu Yunus bercerita kepada kami, ia berkata, Ibnul Mudzhib bercerita kepada kami, ia berkata, Ibnu Malik bercerita kepada kami, ia berkata, : Telah sampai kepada kami bahwa Sulaiman pernah berkata kepada putranya, "Wahai anakku, berjalanlah di belakang singa dan ular dan jangan kamu berjalan dibelakang wanita." [Dzammul Hawa, Imam Abul Faraj Abdurrahman Ibnul Jauziy, hal : 115. Pustaka Daarul Kutub al-Arab]

Diantara penyebab bahayanya berjalan dibelakang wanita karena syaithon akan menghias-hiasi wanita sehingga menjadikannya sebagai fitnah. Dan wanita ketika ia menghadap kedepan, seolah-olah ia dalam bentuk syaithon dan juga menghadap kebelakang seolah-olah dalam bentuk syaithon. Dalam sebuah hadits yang diriwayat oleh Jabir, bahwasannya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pernah bersabda :

.((إن المرأة تقبل في صورة شيطان، وتدبر في صورة شيطان))
 [أخرجه مسلم ٥٥٠، ص : ١٤٠٣. بيت الفكار الدولية]

((Sesungguhnya wanita menghadap kedepan dalam bentuk syaithon dan menghadap ke belakang dalam bentuk syaithon)). [HR. Muslim no.1403, (hal.550). Cet. Baitul Afkar ad-Dauliyyah]

Maksud ((Wanita menghadap kedepan dalam bentuk syaithon dan menghadap ke belakang dalam bentuk syaithon)), maknanya adalah isyarat kepada hawa nafsu dan seruan menuju fitnah kepadanya sebagaimana ucapan Imam Nawawiy diatas. Namun aneh dan ajaibnya, para wanita banyak yang tidak menyadari hal ini. Bahkan para wanita justru dengan sengaja malah memamerkan auratnya, menampakkan lekuk tubuhnya, mempertontonkan pakaian-pakaian mininya, jilbab-jilbab gaulnya, cadar-cadar narsisnya, yang sejatinya hal itu dapat menimbulkan fitnah bagi laki-laki dan membahayakan dirinya dalam kehancuran. Berkata seorang penyair :

“Domba tersesat mengundang perhatian srigala kelaparan.
Mereka haus dan rakus ingin menyantapnya.
Janganlah engkau gembira dengan lolongan srigala-srigala itu.
Larilah... selamatkan dirimu.
Karena ia dan rombongannya telah kuat keinginannya.
Untuk menerkammu serta menyantapmu.
Sedangkan engkau tidak mengetahui tipu daya mereka."

Berkata para kafilah :

"Bila pemuda merasa terfitnah
Itu karena ulah wanita
Menampakkan aurat dihadapan mereka
Bala'pun datang lalu menerpa."

Berkata ahli hikmah :

"Allah berfirman dalam kitab-Nya.
Tentang penyebab datangnya zina.
Wanitalah awal mulanya.
Karena mereka sumber fitnahnya.

Wanita pezina dan lelaki pezina.
Cambuklah ia seratus kali dera.
Sebab zina adalah hina.
Sebagai dosa penyebab murka.

Disebutkan wanita diawal firman-Nya.
Karena wanita sumber fitnahnya.
Demikianlah ketetapan dari-Nya.
Untuk menguji para pemuda.

Barangsiapa takwa pada-Nya 
Balasannya adalah surga.
Sebagai tempat tinggal termulia.
Bagi orang yang takut kepada-Nya."

Semoga tulisan ini bermanfaat untuk kaum muslimin dan muslimah seluruhnya dan menjadi wasilah bagi saudara-saudari kita untuk menambah ketakwaan kepada Allah 'Azza wa Jalla.

Selasa, 17 Mei 2022

SELFIE DAN RASA MALU

 Bismillah, alhamdulillahi Rabbil 'aalamiin, wa shallallahu 'ala Nabiyyina Muhammadin wa 'ala aalihi wa shahbihi ajma'iin. Wa ba'du.


Fenomena selfie adalah suatu peristiwa dimana seseorang berpose sedemikian rupa dengan gaya-gaya tertentu dengan tujuan agar bisa di upload di sosial media alias dunia maya. Hal seperti diatas tidak saja melanda orang-orang awam, tapi melanda juga orang-orang yang sudah berhijrah atau baru berhijrah.

Memang untuk menjadi sempurna itu butuh proses, dan diantara prosesnya adalah belajar ilmu agama. Namun serbuan teknologi yang bak tsunami ini membuat kita terus sibuk dengan teknologi dan mengabaikan belajar ilmu agama. Sejatinya teknologi itu akan terus berkembang, sehingga kita yang akan tertinggal atau kita yang akan meninggalkan teknologi. Diantara kecanggihan teknologi yang terus dikembangkan saat ini yaitu fitur kamera dengan resolusi gambar yang semakin tinggi, yang membuat selfie semakin diminati. 

Di zaman sekarang, sudah banyak wanita-wanita yang bercadar, mereka tegar diatas keyakinan mereka, bahkan mereka sampai dikatakan tenda berjalan, ninja, bahkan dikatakan teroris tapi mereka tidak perduli, karena gelar-gelar itu hanyalah kedustaan atas mereka. Namun, setelah semua itu dapat dilaksanakan,  langkah selanjutnya yaitu hendaknya mereka menghiasi dirinya dengan rasa malu. Diantara tanda adanya rasa malu, mereka tidak akan rela menampakkan dirinya dikhalayak ramai. Seperti contoh wanita yang bercadar, mereka sebenarnya sudah memiliki rasa malu, buktinya mereka mau memakai cadar dan menyembunyikan wajahnya dari pandangan laki-laki asing yang bukan mahromnya. Namun yang sangat mengherankan masih banyak juga diantara wanita-wanita bercadar tersebut yang masih suka selfie dan pamer-pamer foto di dunia maya.

Saudariku, sejatinya wanita itu fitnah, maka sembunyikan diri kalian, bukan malah selfie dan bersolek ala jahiliyyah, pamer aurat, pamer foto dengan menguploadnya di dunia maya Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :

((ما تركتُ بعدي فتنة أضر على الرجال من النساء))


"Aku tidak meninggalkan sepeninggalku suatu fitnah yang lebih berbahaya bagi laki-laki dari pada wanita.” [HR. Bukhari no.5096 (hal.1010) dan Muslim no.2740 (hal.1095), pustaka Baitul Afkaar ad-Dauliyyah]

Jika para wanita telah mengetahui bahwa mereka adalah fitnah, lalu untuk apa menampakkan diri di dunia maya dengan foto selfie, apalagi dengan tabarruj ala wanita jahiliyyah.

Hukum asalnya wanita itu diciptakan dengan penuh keindahan, jika mereka semakin menampakkan dirinya, atau memamerkan foto cadarnya, apalagi sampai mengekspose wajahnya, pintu-pintu fitnah-pun akan semakin terbuka. Hukum kebalikannya, semakin seorang wanita menyembunyikan darinya dari pandangan laki-laki, maka semakin terjaga pula ia dari godaan srigala-srigala buas yang berkeliaran di dunia nyata maupun di dunia maya. Ingat saudariku, benteng terkuat seorang wanita adalah istananya atau rumahnya, Allah Ta'ala berfirman :

«وَقَرْنَ فِى بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ ٱلْجَـٰهِلِيَّةِ ٱلْأُولَىٰ»


Artinya : "Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu." (QS. Al-Ahzab : 33)

Kalimat "Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu", merupakan kalimat perintah yang mengisyaratkan agar wanita berdiam dirumahnya, karena rumah bagi seorang wanita merupakan benteng dan hijab yang akan menjaganya dari pandangan laki-laki asing. Adapun benteng ketika mereka keluar dari rumahnya adalah hijabnya. 

Sebuah pepatah mengatakan : 

“Hijab adalah perisai. Mahkota bagi pemiliknya. Seolah-olah perhiasan dunia. Yang menawan orang-orang sholeh. Dalam penjara-penjara cinta diatas aqad. Seakan-akan permata yaqut yang tersimpan.”

Jika mereka telah menjadikan rumahnya sebagai benteng dan pakaiannya sebagai hijab, maka langkah selanjutnya jangan suka selfie, jangan suka pamer foto, jangan hobi upload gambar diri di dunia maya, sebab itu akan menimbulkan fitnah bagi laki-laki, dan hal itu juga termasuk diantara tanda kurangnya rasa malu pada diri seorang wanita muslimah.

MALUNYA PUTRI NABI SYU'AIB 'ALAIHISSALAM


Putri Nabi Syu'aib adalah wanita terhormat dikalangan kaumnya, dan wanita terhormat, dia yang selalu menghiasi dirinya dengan rasa malu. 

Pada suatu hari Nabi Syu'aib 'alaihissalam pernah mengutus anaknya untuk memanggil Nabi Musa 'alaihissaslam agar mendatangi ayahnya.  Allah Ta'ala berfirman :

«فَجَآءَتْهُ إِحْدَىٰهُمَا تَمْشِى عَلَى ٱسْتِحْيَآء»


Artinya : "Kemudian datanglah kepada Musa salah seorang dari kedua wanita itu berjalan kemalu-maluan..." (QS. Al-Qashash : 25)

Berkata Ibnu Katsir rahimahullah dalam kitab tafsirnya :

قال الله تعالى : «فَجَآءَتْهُ إِحْدَىٰهُمَا تَمْشِى عَلَى ٱسْتِحْيَآء» أي مشي الحرائر، كما روي عن أمير المؤمنين .عمررضي الله عنه أنه
.قال : كانت مستترة بكم درعها

وقال ابن أبي حاتم : حدثنا أبي حدثنا أبو نعيم، حدثنا إسرائيل عن أبي إسحاق عن عمرو بن ميمون قال : قال عمر رضي الله عنه : جاءت تمشي على استحياء قائلة بثوبها على وجهها، ليست بسلفع من النساء دلاجة .ولاجة خراجة. هذا إسناد صحيح[تفسير ابن كسير، ٣\٣٤٥. دار الكتب العلمية]

Allah Ta'ala berfirman : ((Artinya : "Kemudian datanglah kepada Musa salah seorang dari kedua wanita itu berjalan kemalu-maluan)), yaitu jalannya wanita-wanita terhormat (bukan hamba sahaya) sebagaimana yang diriwayatkan dari Amiiril Mu'miniin Umar radhiyallahu 'anhu bahwasanya dia berkata : Dia datang dengan tertutup oleh pakaiannya dari penglihatan mereka.

Berkata Ibnu Abi Hatim : Menceritakan kepada kami bapak-ku, menceritakan kepada kami Abu Na'im, menceritakan kepada kami Israil dari Abu Ishaq, dari amr bin Maimun berkata : Berkata Umar radhiyallahu 'anhu : Dia datang berjalan dengan malu-malu disiang hari dengan bajunya menutupi wajahnya, bukan wanita yang amat berani dan yang sering keluar rumah. Ini Isnadnya shohih. [Tafsir Ibni Katsir, 3/345 pustaka Daarul Kutub Al-Ilmiyah]

Sebenarnya putri Nabi Syu'aib 'alaihissalam tidak punya ambisi apapun tatkala menemui Nabi Musa 'alaihissalam, tapi hal itu semata-mata atas dasar perintah ayahandanya Nabi Syuaib 'alaihissalam. Karena itu ketika wanita sholihah ini mendatangi Nabi Musa 'alaihissalam, hal yang ia lakukan, (1) berjalan dalam keadaan malu. Sifat ini menunjukkan beginilah fitrah wanita sholihah, sifat wanita terhormat, bukan wanita yang sering keluar rumah, atau wanita yang berani terhadap laki-laki ajnabi (asing), dan bukan pula wanita hamba sahaya yang tidak punya rasa malu, sebab mereka ini sangat berani terhadap laki-laki asing.

(2) Sifat malunya putri Nabi Syu'aib 'alaihissalam bukan sifat malu yang dibuat-buat, sifat itu muncul dari tabiat bawaan wanita-wanita merdeka yang terhormat sebagaimana kisah Hindun binti 'Utbah tatkala Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam membaiat mereka seraya mengatakan : "Janganlah kalian berzina."! Hindun Binti 'Utbah menjawab : "Apakah wanita merdeka berzina?" Maksud ucapan Hindun binti 'Utbah ini yaitu ungkapan keheranan, apa ada wanita meredeka yang berzina? Sebab yang dia fahami dan difahami pula oleh wanita-wanita Quraisy ketika itu bahwa wanita merdeka tidak mungkin melakukan perzinahan, karena yang berzina dari kalangan wanita ketika itu adalah wanita-wanita budak, wanita-wanita rendahan, bukan dari kalangan wanita-wanita yang terhormat. 

(3) Putri Nabi Syu'aib 'alaihissalam wanita yang sholihah, dan wanita sholihah tidak akan berani bertemu dengan laki-laki asing yang bukan mahramnya. Hal  ini semakna dengan kisah Maryam binti Imran ibunda Nabi Isa 'alaihissalam ketika didatangi oleh malaikat Jibril, Allah Ta'ala berfirman : 

«قَالَتْ إِنِّىٓ أَعُوذُ بِٱلرَّحْمَـٰنِ مِنكَ إِن كُنتَ تَقِيًّۭا»

Artinya : "Maryam berkata: "Sesungguhnya aku berlindung kepada Tuhan Yang Maha pemurah dari pada-mu, jika kamu seorang yang bertakwa". (QS. Maryam : 18).

Pada kisah diatas, Maryam merasa takut saat didatangi laki-laki asing yang tidak lain adalah malaikat Jibril, sehingga ia berlindung kepada Allah dari kejahatan laki-laki tersebut padahal ia Malaikat Jibril. Inilah sikap wanita sholihah dihadapan laki-laki asing setampan malaikat Jibril-pun, bukan malah sebaliknya.

(4) Sifat malu putri Nabi Syu'aib bukan sekedar sifat malu yang biasa-biasa saja, tapi sifat malu yang sangat indah, sampai-sampai ia menutupkan kain bajunya ke arah wajahnya agar tidak dipandang oleh Nabi Musa 'alaihissalam

Itulah keadaan putri Nabi Syu'aib 'alaihissalam yang membedakan ia dengan wanita-wanita hamba sahaya, wanita-wanita penggoda, bahkan wanita-wanita di zaman kita sekarang ini. Lalu bagaimana pendapat kita dengan wanita di zaman kita yang berani berjalan berlenggak-lenggok dihadapan lelaki asing yang bukan mahramnya? Waliyaadzubillah. 

Karena itu,  berhiaslah dengan sifat malu wahai saudariku, sebab hal itu merupakan sifat wanita-wanita terhormat dan sifat wanita-wanita sholehah. Hentikan foto selfie itu, hentikan upload foto diri di dunia maya, hentikan pamer aurat dan berjalan berlenggak-lenggok didepan laki-laki yang bukan mahrammu, dan hentikan sebar video-video narsis, baik video-video yang memperlihatkan dirimu yang bercadar berjalan berputar-putar dan berlari-lari kecil kian kemari, belum lagi video-video lainnya. Betapa banyak laki-laki yang terfitnah akibat ulahmu, dan yang anehnya engkau sendiri tidak pernah menyadari hakikat perbuatanmu itu. Pikirkanlah apa fungsi dari perbuatan-perbuatanmu itu. Tanyakan pada dirimu apa manfaat dari video lari-lari kecil-mu yang engkau upload di akun media sosial-mu, tanyakan apa guna foto-foto selfie-mu yang engkau unggah di akun pribadi milikmu?, tanyakan juga tentang apa faedah upload foto-foto-mu yang terupdate setiap saat di jejaring sosial-mu?, dan apa pula gunanya pamer aurat-mu di seluruh akun sosial mediamu dan di akun-akun youtube-mu? Bahkan jika suatu saat engkau diwafatkan oleh Allah 'Azza wa Jalla pada suatu hari nanti, video-video yang engkau unggah dan foto selfie yang engkau upload, akan terus terpajang di galeri sosial mediamu hingga hari kiyamat nanti, di pandangi oleh laki-laki yang bukan mahram-mu, sehingga pada hari hisab, engkau akan  membawa dosa jariyah yang banyak dan mempertanggungjawabkan semua yang telah engkau perbuat di hadapan Allah dalam keadaan menyesal, itulah penyesalan yang tidak berguna. Waliyaadzubillah.

RASA MALU TERMASUK CABANG KEIMANAN

Saudariku, rasa malu itu termasuk cabang keimanan. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :

.((عن أبي هريرة رضي الله عنه، عن النبي صلى الله عليه وسلم قال : ((الإمان بضع وستون شعبة، والحياء شعبة من الإمان
[رواه البخاري (٩) ص : ٢٥-٢٦ ومسلم (٣٥) ص : ٤٨. بيت الفكار الدولية]

Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabada : ((Iman itu ada tujuh puluh cabang lebih, dan rasa malu adalah cabang dari keimanan)). [HR. Al-Bukhari (no.9), hal : 25-26. Dan Muslim (no. 35), hal : 48. Cet. Baitul Afkar Ad-Dauliyyah]

Dalam hadits yang lain :

عن أبي هريرة، قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : ((الإيمان بضع وسبعون، أو بضع وستون شعبة، أفضلها قول لا
 .((إله الله، وأدناها إماطة الأذى عن الطريق، والحياء شعبة من الإمان
[رواه ومسلم (٣٥) ص : ٤٨. بيت الفكار الدولية]

Dari Abu Hurairah, ia berkata : Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda : ((Iman itu ada tujuh puluh atau enam puluh cabang lebih, dan yang paling utama adalah ucapan la ilaaha illallah, dan yang paing rendah yaitu menyingkirkan gangguan dijalanan, dan rasa malu adalah cabang dari keimanan)). [HR. Muslim (no.35), hal : 48. Cet. Baitul Afkar ad-Dauliyyah]

Dalam hadits yang lain Imam Muslim menyebutkan sanadnya :

: حدثنا سفيان ابن عيينة، عن الزهري، عن سالم، عن أبيه، سمع النبي صلى الله عليه وسلم رجلا يعظ أخاه في الحياء، فقال
.((الحياء من الإمان))
[روه مسلم (٣٦) ص : ٤٨. بيت الفكار الدولية]

Menceritakan kepada kami Sufyan bin 'Uyainah dari Zuhriy, dari Salim, dari bapak-nya, Nabi mendengar seorang laki-laki menasehati sahabatnya tentang rasa malu, maka Nabi bersabda :  ((Malu adalah bagian dari keimanan))[HR. Muslim (no. 36), hal. 48. Cet. Baitul Afkar ad-Dauliyyah]

RASA MALU ADALAH KUNCI SEGALA KEBAIKAN


Bila rasa malu telah menghiasi diri seseorang, maka hal itu akan mendatangkan kebaikan yang banyak pada diri orang tersebut. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda dalam hadits Imran bin Hushain :

عن قتادة قال : سمعت أبا السوار يحدث. أنه سمع عمران ابن حصين يحدث عن النبي صلى الله عليه وسالم أنه قال : ((الحياء
 .((لا يأتي إلا بخير
[روه مسلم (٣٧) ص : ٤٨. بيت الفكار الدولية]

Dari Qotadah berkata : Aku mendengar Abu Sawwar menceritakan. Bahwasannya dia (Abu Sawwar) mendengar Imran bin Hushain menceritakan dari Nabi shallalahu 'alaihi wa sallam bahwasannya beliau bersabda : ((Malu tidak mendatangkan sesuatu kecuali kebaikan))  [HR. Muslim (no. 37), hal. 48. Cet. Baitul Afkar ad-Dauliyyah]

Dan dari Imran bin Hushain juga bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :

((الحياء خير كله)). قال أو قال : ((الحياء كله خير))[روه مسلم (٣٧) ص : ٤٨. بيت الفكار الدولية]

((Malu itu kebaikan seluruhnya)). Dia berkata atau dia mengatakan : ((Malu itu semuanya baik)). [HR. Muslim (no. 37), hal. 48. Cet. Baitul Afkar ad-Dauliyyah]

Pada hadits-hadits diatas, Nabi shaallahu 'alaihi wa sallam ingin menjelaskan kepada kita bahwa rasa malu tidak mendatangkan sesuatu kecuali kebaikan. Bahkan Nabi shaallahu 'alaihi wa sallam mengatakan bahwa rasa malu itu semuanya baik, tidak ada yang buruk. Sehingga orang yang malu melakukan hal-hal yang buruk, melakukan hal-hal yang bisa menurunkan wibawa dan kehormatannya, maka orang yang seperti ini telah menjaga dirinya, menjaga muro'ah dan izzahnya dihadapan manusia, sehingga Allah-pun akan mengangkat derajat mereka dihadapan manusia, dan itulah balasan bagi orang-orang yang menjaga rasa malunya.

JIKA ENGKAU TIDAK PUNYA MALU BERBUATLAH SESUKAMU

Jika seseorang sudah tidak lagi memiliki rasa malu, dia akan melakukan apa saja yang dia inginkan, meskipun itu perkara yang haram. Dalam hadits Rasulullah shallallahu alaihi wa salam disebutkan :

عن أبي مسعود عقبة بن عمرو الأنصاري رضي الله عنه  قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: ((إن مما أدرك الناس من كلام
 .النبوة الأولى: إذا لم تستح فاصنع ما شئت)). رواح البخاري

Dari Abu Mas'ud 'Uqbah bin 'Amr al-Anshary radhiyallahu 'anhu berkata : Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda : ((Sesungguhnya diantara yang diketahui manusia dari perkataan para nabi terdahulu : Jika engkau tidak punya malu, maka berbuatlah sesukamu)). [HR. Al-Bukhari]

Berkata Asy-Syaikh Bandar bin Nafi dalam syarah hadits diatas :

فيه دليل على فضل الحياء، وأنه مما جاء به الشرائع السابقة، وهو خلق يبعث على اجتناب القبيح، ويمنع من التقصير في حق ذي الحق، وهذا هو الحياء المحمود، وأما الحياء الذي يمنع صاحبه من القيام بالحقوق الواجبة، أو لا يمنع من فعل القبيح، فهو حياء
.مذموم

و قد جاء النصوص الكثيرة بمدح الحياء و الحث عليه، ففي ((الصحيحين)) عن ابن عمر رضي الله عمهما أن النبي سلى الله عليه
.((وسلم قال : ((الحياء من الإمان))، وثبت عنه أنه قال : ((الحياء خير كله ولا يأتي إلا بخير

ثم اعلم أن الحياء منه ما هو غريزي، ومنه ما هو مكتسب، فالغريزي هو الذي فطر عليه العبد، والمكتسب هو الذي يجاهد العبد معه نفسه حتى يبلغه، قال النبي صلى الله عليه وسلم : ((إنما الحلم بالتحلم، وإنما العلم بالتعلم))، وقال عليه الصلاة والسلام لأشج
.((أشج عبد القيس : ((إن فيك لخصلتين يحبهما الله : الحلم والأناة

 : أن المراد بقوله صلى الله عليه وسلم : ((إذا لم تستح فاصنع ما شعت)) أحد وجهين
.الأول : أنطر إلى ما تريد فعله، فإن كان مما لا يستحى منه فافعله، وإن كان يستحى منه فدعه ولا تبالي بالخلق
الثني : أن الإنسان إذا لم يستح يصنع ما يشاء ولا يبالي، لأن الذي يكفه عن مدافعة الشر هو الحياء، فإذا فقده توفرت دواعيه على
.مواقعه الشر وفعله

[الدرر السنية بفوائد الربعين النووية، ص : ٨٣-٨٤. دار ابن الجوزي]

"Pada hadits ini ada dalil yang menunjukkan keutamaan rasa malu, dan bahwasannya rasa malu termasuk yang datang dengannya syariat terdahulu, ia merupakan akhlak yang dapat menyebabkan seseorang menjauhkan diri dari perkara yang buruk, mencegah dia dari menghilangkan hak pemilik hak, ini merupakan malu yang terpuji. Adapun rasa malu yang mencegah pelakunya dari menegakkan hak-hak yang wajib, atau tidak mencegah dia dari melakukan keburukan, maka ini merupakan malu yang tercela. 

Dan sungguh telah datang nash-nash yang banyak yang memuji rasa malu dan menganjurkan berhias dengannya, dan dalam ((shohihain) dari Ibnu Umar radhiyallahu 'anhuma bahwasannya Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda : ((Rasa malu itu kebaikan seluruhnya dan ia tidak mendatangkan kecuali kebaikan)).

Dan ketahuilah bahwasannya rasa malu itu diantaranya ada yang bawaan (tabiat asli) dan ada juga yang diusahakan. Adapun sifat malu bawaan yaitu yang difitrahkan seorang hamba atasnya, sedangkan yang diusahakan yaitu yang diri seorang hamba bersungguh-sungguh dengannya, sampai dia mendapatkannya. Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda : ((Hanya saja sifat lemah lembut (sabar) itu diusahakan, dan ilmu dengan belajar)), Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda kepada Asyaj yaitu Asyaj Abdul Qais : ((Sesungguhnya didalam dirimu ada dua akhlak yang dicintai oleh Allah : (Al-Hilm) kesabaran dan (Al-aanah) sifat tidak tergesa-gesa)).

Sesungguhnya yang dimaksud dengan sabda Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam : ((Jika engkau tidak punya malu maka berbuatlah sesukamu)) salah satu dari dua sisi :

Pertama : Lihatlah pada apa yang engkau inginkan, lalu kerjakanlah. Apabila dia tidak punya rasa malu dari hal tersebut maka lakukanlah, namun apabila dia malu dari melakukannya maka tinggalkanlah dan jangan engkau perduli dengan makhluk.

Kedua : Sesungguhnya manusia apabila dia tidak punya rasa malu, dia akan melakukan apa saja yang dia kehendaki dan dia tidak perduli, karena sesungguhnya yang mencegah dirinya dari mendukung keburukan adalah rasa malu, apabila ia kehilangan rasa malu maka seruannya banyak ke tempat-tempat keburukan dan diapun melakukannya." [Ad-Durar As-Saniyyah bi Fawaaid Al-Arba'iin An-Nawawiyyah, hal.83-84. Cet. Daar Ibnil Jauzi]

Mari kita tanamkan rasa takut kepada Allah wahai saudariku, karena sesungguhnya jari-jemari, mata, hati, anggota badan seluruhnya, akan diminta pertanggung jawabannya nanti pada hari kiyamat. Dan mari kita hiasi diri kita dengan rasa malu sebagaimana putri Nabi Syu'aib 'alaihissalam, dan meninggalkan foto selfie dan upload foto di dunia maya, karena hal itu tidak ada manfaatnya. Selain akan menjadi tontonan orang banyak, hal tersebut bisa juga mendatangkan 'ain jika manusia memujinya, atau bisa menimbulkan fitnah bagi yang memandangnya, atau bahkan bisa menimbulkan kemungkaran-kemungkaran lain. Ingat, foto-foto tersebut akan terus terpajang di beranda sosial mediamu meskipun engkau telah meninggal dunia. Waliyaadzubillah.

Sebagai penutup, nasihat ini tentunya tidak hanya untuk kaum muslimah, tapi juga untuk kaum laki-laki yang suka selfie. Dan jangan lupa baca juga tulisan sebelumnya dengan judul Bahaya Fitnah Wanita.

Semoga tulisan ini bermanfaat.