Beranda

Sabtu, 15 September 2018

KEUTAMAAN MENUNTUT ILMU DAN KEWAJIBAN BAGI SETIAP MUSLIM DAN MUSLIMAH

Saudara dan saudariku, menuntut ilmu memiliki keutamaan dan dia adalah kewajiban. Diantara sebagian keutamaan menuntut ilmu antara lain :

1. Para shahabat lebih mencintai menuntut ilmu dari pada sholat sunnah seribu rakaat

Berkata ulama besar dari kalangan sahabat yaitu Abu Hurairoh dan Abu Dzar radhiyallahu 'anhumaa :
"Satu bab dari ilmu yang kami pelajari lebih kami cintai dari pada seribu rakaat sholat sunnah. [An-Nubadzu fii Aadaabi Tholabil 'Ilmi, hal.140]

Berkata ulama tafsir dari kalangan sahabat yaitu Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhumaa :
"Mudzakaroh ilmu di sebagian malamnya lebih aku cintai dari pada menghidupkan malam tersebut (dengan sholat sunnah). [An-Nubadzu fii Aadaabi Tholabil 'Ilmi, hal.140]

Berkata Imam As-Syafi'i rahimahullah seorang yang sangat cerdas :
"Menuntut ilmu lebih utama dari sholat sunnah." [An-Nubadzu fii Aadaabi Tholabil 'Ilmi, hal.141]


2. Para Ulama menganggap tidak ada amalan yang lebih utama melainkan menuntut ilmu, bagi orang-orang yang baik niatnya

Berkata Imam Sufyan Ats-Tsauri rahimahullah :
"Aku tidak pernah mengetahui suatu amalan yang lebih utama dari menuntut ilmu bagi orang yang baik niatnya." [An-Nubadzu fii Aadaabi Tholabil 'Ilmi, hal.141]


3. Menuntut ilmu adalah kewajiban

Menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap individu, muslim maupun muslimah. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :
"Menuntut ilmu wajib bagi setiap muslim." (Sunan Ibnu Majah no.224,hal.39. Pustaka Baitul Afkar Ad-Dauliyyah)


4. Menuntut ilmu jalan menuju surga 

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :
"Barangsiapa yang menempuh suatu jalan dalam rangka mencari ilmu, maka Allah mudahkan baginya jalan menuju surga." [Shahiihul Bukhari, hal: 38. Pustaka Baitul Afkar Ad-Dahulunya]


5. Penuntut ilmu adalah orang orang yang dininginkan kebaikan oleh Allah

Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda :
"Barangsiapa yang Allah inginkan bagi dia kebaikan, Allah akan fahamkan dia (tentang ilmu agama)." [Shahiihul Bukhari, hal.39. Pustaka Baitul Afkar Ad-Dauliyyah].


6. Ilmu di dapatkan hanya dengan cara belajar

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :
"Ilmu itu (didapatkan) hanya dengan belajar." [Shahiihul Bukhari, hal.39. Pustaka Baitul Afkar Ad-Dauliyyah].

Dalam Al-Jaamiush Shahiih di sebutkan dari hadits Muawiyah bin Abi Sufyan radhiyallahu 'anhuma :
"Wahai sekalian manusia, belajarlah kalian. Sesungguhnya ilmu itu hanya didapatkan dengan belajar, dan kefamahan akan didapatkan dengan mempelajari fiqih, dan barangsiapa yang Allah inginkan bagi dia kebaikan, Allah akan fahamkan dia agama." [Al-Jaamiush Shahiih, hal 41. Al-Maktabatus Salafiyyah]


7. Menuntut ilmu hingga akhir hayat

Disebutkan dalam An-Nubadz, berkata Al-Hasan bin Manshur rahimahullah :
"Aku berkata  kepada Ahmad bin Hambal : "Sampai kapan seorang laki-laki mempelajari hadits?". Berkata Ahmad bin Hambal : "Sampai dia wafat." [An-Nubadzu fii Aadaabi Tholabil 'Ilmi, hal.350]


8. Belajar Nahwu kunci pembuka ilmu

Berkata Asy-Syaikh Al-Utsaimin rahimahullah dalam syarah kitab Al-Jurumiyah:
"Sesungguhnya ilmu nahwu merupakan ilmu yang mulia, ilmu yang merupakan wasilah ; yang dengannya menjadi perantara kepada dua perkara yang penting :

Pertama: Memahami kitab Allah dan sunnah Rasul-Nya shallallahu 'alaihi wa sallam, karena memahami keduanya berhenti pada mengetahui ilmu Nahwu.

Kedua:Membiasakan lisan dengan lisan orang-orang arab, yang telah turun dengannya firman Allah 'Azza wa Jalla ; untuk itu memahami ilmu Nahwu merupakan perkara yang teramat penting sekali ; akan tetapi ilmu Nahwu di awalnya sulit dan di akhirnya mudah, dan sungguh telah di umpamakan: Seperti rumah dari bambu dan pintunya dari besi, yaitu: Memasukinya sulit akan tetapi apabila kamu telah masuk ; mudah bagimu segala sesuatu ; untuk inilah selayaknya orang-orang agar dia bersungguh-sungguh untuk mempelajari ilmu Nahwu sebagai titik permulaan  sampai tetapnya kemudahan atasnya. Dan tidaklah (dia) bersedih hati dengan ucapan orang-orang yang berkata :

"Sesungguhnya Nahwu itu sulit, sampai terbayangkan oleh penuntut ilmu bahwasanya Nahwu itu tidak mungkin dipelajari, maka ini sungguh tidaklah benar, akan tetapi tanamkanlah olehmu atas yg pertama (bahwa Nahwu itu sulit di awal), dan mudah bagimu di akhirnya."

Berkata sebagian mereka :

"Nahwu itu sulit dan panjang tangganya. Jika orang mendakinya tidaklah dia memahaminya.Dia menginginkan agar berbicara dengan bahasa arab yang fasih (Nahwu), maka (lidahnya) tidak jelas bicara (menerangkan)nya."

Ini tidak benar, kita  tidaklah pantas mengucapkan ini ; akan tetapi kita katakan -Insya Allah- Nahwu itu mudah dan tangganya (jenjangnya) pendek, anak tangganya mudah (dilalui), memahaminya yaitu dari awalnya."

[Syarhul Jurumiyyah, li Fadhilati asy-Syaikhi al-'Allaamati Muhammadi bni Shoolihi Al-'Utsaimiin, (hal.9-10), Maktabatu-Ar-Rusydi]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar